JAKARTA, iNews.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar pembagian makanan, melainkan investasi besar untuk membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan.
Hal itu disampaikan Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Sony Sonjaya saat menghadiri rangkaian kegiatan Ramadan Fair 2026 yang digelar kalangan remaja Masjid Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Menurut Sony, pemenuhan gizi anak merupakan fondasi utama sebelum mereka menerima pendidikan di sekolah. Tanpa asupan gizi yang cukup, proses belajar tidak akan berjalan optimal.
“Bagaimana kita mau menghasilkan anak didik yang baik kalau gizinya kurang. Sebelum otaknya diisi ilmu pengetahuan, gizinya dulu harus bagus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, anak-anak yang mengalami kekurangan gizi cenderung sulit berkonsentrasi saat belajar, sehingga penyerapan materi pelajaran tidak maksimal. Karena itu, program MBG dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan generasi muda tumbuh sehat sekaligus siap belajar.
Selain memberi asupan makanan bergizi, Sony menilai program ini juga mulai mengubah cara pandang masyarakat tentang pentingnya kualitas makanan. Jika dulu masyarakat hanya memikirkan makanan sekadar mengenyangkan perut, kini anak-anak mulai mengenal konsep gizi seimbang.
“Sekarang anak-anak sudah mulai bicara karbohidratnya apa, proteinnya apa, seratnya apa, vitaminnya apa. Dulu hal seperti ini hampir tidak pernah dibicarakan,” kata Sony.
Menurutnya, perubahan pola pikir tersebut menjadi modal penting bagi generasi mendatang dalam membangun budaya hidup sehat di seluruh Indonesia, dari desa hingga kota besar.
Sementara itu, Tenaga Ahli Utama BGN Florencio Mario Vieira menegaskan program MBG tidak mengurangi anggaran pendidikan nasional seperti yang sempat ramai diperbincangkan.
Ia memastikan anggaran pendidikan justru terus meningkat setiap tahun, termasuk pada 2026.
“Tidak ada anggaran pendidikan yang berkurang. Justru anggaran pendidikan dari tahun ke tahun meningkat, bahkan tahun 2026 naik sekitar 20 hingga 26 persen,” ujarnya.
Florencio menilai MBG merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia Indonesia, dimulai dari masa kehamilan, balita, hingga anak usia sekolah. Menurut dia, sumber pendanaan program tersebut berasal dari efisiensi anggaran pemerintah yang sebelumnya dinilai kurang efektif.
Presiden Prabowo Subianto, kata Florencio, melakukan penataan ulang berbagai pengeluaran negara yang tidak efisien agar dapat dialihkan ke program prioritas seperti MBG.
“Dulu banyak kegiatan yang tidak efisien, seperti rapat di hotel atau perjalanan dinas berlebihan. Sekarang anggaran itu dikumpulkan dan diprioritaskan untuk program yang berdampak langsung ke masyarakat,” jelasnya.
BGN juga menekankan pentingnya menjaga kualitas makanan yang disajikan kepada penerima manfaat. Setiap makanan yang diproduksi harus melalui proses pemeriksaan ketat sebelum didistribusikan.
Mulai dari pengujian cepat di dapur produksi hingga pengecekan ulang di sekolah, semua dilakukan untuk memastikan makanan layak dikonsumsi. BGN juga membuka ruang kritik dari masyarakat terhadap pelaksanaan program tersebut.
Di tingkat pelaksana, Pendiri Yayasan Masjid Miftahussalam Riftah Yusuf Maulana menyebut dapur penyedia MBG yang mereka kelola melibatkan ahli gizi dan chef profesional bersertifikat.
Menu makanan pun disusun bervariasi setiap hari, mulai dari chicken katsu, nasi kuning, nasi goreng hingga berbagai menu khas Nusantara. Selain itu, sistem pengawasan juga diperketat dengan pemasangan kamera pengawas (CCTV) yang terhubung langsung dengan pusat BGN.
“Seluruh proses mulai dari pengolahan bahan, memasak, hingga distribusi makanan terekam dan bisa dipantau langsung,” ujarnya.
Editor : Abdullah M Surjaya
Artikel Terkait
