Kemegahan kirab semakin terasa dengan hadirnya 15 tandu atau joli, 12 liong naga berukuran besar, serta puluhan barongsai yang bergerak bersama dalam arak-arakan budaya spektakuler.
Tidak hanya komunitas seni budaya, sejumlah tenant industri serta perwakilan masyarakat juga turut ambil bagian dalam kirab tersebut. Hal ini menjadikan parade budaya tersebut sebagai simbol harmoni keberagaman di kawasan Jababeka.
Selain menjadi perayaan budaya, festival ini juga memberikan dampak ekonomi yang nyata. Sebanyak 100 tenant dari sektor makanan dan minuman (F&B), fashion, serta kerajinan tangan turut berpartisipasi dalam acara ini.
Kehadiran ribuan pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan festival turut mendorong perputaran ekonomi yang signifikan di area acara.
“Keberhasilan Jababeka Harmony Festival 2026 ini memperkuat posisi Jababeka bukan sekadar sebagai kota mandiri terintegrasi, melainkan sebuah Kota Wisata Industri Modern yang matang. Inisiatif ini membuktikan bahwa Jababeka adalah kawasan yang sangat nyaman dan aman, baik untuk dihuni sebagai rumah maupun sebagai instrumen investasi jangka panjang yang menjanjikan di masa depan,” tuturnya.
Kolaborasi dengan pelaku UMKM juga mendapat apresiasi dari Wiranusa Indonesia sebagai mitra pemberdayaan usaha kecil.
Ketua Umum Wiranusa Indonesia, Aisyah Ayu, menilai kegiatan ini menjadi contoh nyata sinergi antara kawasan modern dengan pelaku ekonomi kerakyatan.
“Kehadiran para UMKM serta laporan peningkatan omzet tenant hingga berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar festival, tetapi juga penggerak nyata ekonomi masyarakat,” ujar Aisyah.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
