BANDAR LAMPUNG, iNews.id - Pemerintah Kota Bandar Lampung diminta lebih berani menghadirkan inovasi dalam pelayanan publik dan tidak terjebak anggapan bahwa inovasi harus selalu berbasis teknologi digital.
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri Yusharto Huntoyungo mengatakan inovasi daerah tidak harus selalu berbasis digital, tetapi yang terpenting mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Yusharto, banyak aparatur sipil negara (ASN) masih ragu menciptakan terobosan karena merasa inovasi harus rumit dan serba digital. Padahal, inovasi sederhana yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat justru lebih dibutuhkan.
“Selama ini banyak ASN maju mundur karena menganggap inovasi harus canggih. Padahal kalau masyarakat bisa lebih terlayani, itu sudah termasuk inovasi,” kata Yusharto saat memberi arahan penguatan ekosistem inovasi daerah di Bandar Lampung, Selasa (19/5/2026).
Penguatan ekosistem inovasi daerah oleh Kepala BKSDN Kemendagri di Pemkot Bandar Lampung. Foto/Kemendagri
Ia mencontohkan layanan untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sebelumnya hanya tersedia di satu kecamatan. Ketika layanan serupa diterapkan di wilayah lain yang belum terjangkau, hal itu sudah menjadi bentuk inovasi karena memberi manfaat baru bagi masyarakat.
Yusharto juga menegaskan, ukuran inovasi bukan dilihat dari sudut pandang pembuat program, melainkan dari manfaat yang dirasakan warga. Karena itu, program sederhana tetap bisa dianggap inovatif jika mampu memperluas akses pelayanan publik secara inklusif.
Berdasarkan data Indeks Inovasi Daerah (IID) 2025, sebagian besar inovasi pemerintah daerah justru berasal dari pendekatan non digital. Kondisi ini dinilai membuktikan kreativitas birokrasi tak selalu harus berbentuk aplikasi atau sistem teknologi tinggi.
Selain itu, Yusharto memastikan ASN tidak perlu takut berinovasi karena pemerintah telah memberikan perlindungan hukum.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, ASN tidak dapat dipidana jika uji coba inovasi yang dilakukan belum mencapai target yang ditetapkan.
Ia pun mendorong Pemerintah Kota Bandar Lampung memperkuat kolaborasi dengan kampus, komunitas, dunia usaha hingga masyarakat agar lebih banyak solusi kreatif lahir untuk menjawab kebutuhan daerah.
Yusharto juga mengapresiasi keberadaan klinik inovasi di Bandar Lampung yang dinilai mampu mempercepat replikasi program-program unggulan dari daerah lain.
Menurutnya, sebagian besar inovasi daerah memang lahir dari proses “amati, tiru, dan modifikasi” yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Editor : Abdullah M Surjaya
Artikel Terkait
