Hadis tentang Pemimpin: Berlaku Adil Bisa Jadi Jalan ke Surga, Abaikan Rakyat Ancamannya Berat

Widaningsih
Nasib pemimpin dalam Islam sangat bergantung pada amanahnya. Foto/Ilustrasi/Istimewa

JAKARTA, iNewsBekasi.id – Kepemimpinan merupakan salah satu amanah terberat dalam Islam. Seorang pemimpin dapat memperoleh kemuliaan dan diangkat derajatnya apabila menjalankan amanah dengan adil serta penuh tanggung jawab. Sebaliknya, pemimpin yang mengkhianati amanah dan mengabaikan rakyatnya mendapat ancaman berat.

Dalam Islam, seorang pemimpin yang amanah, adil, gemar bersedekah, dan menjalankan kebenaran disebut sebagai salah satu golongan penghuni surga.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ

“Seorang penguasa yang berlaku adil, gemar bersedekah dan mendapat petunjuk untuk menjalankan dan melaksanakan kebenaran.” (HR. Muslim)

Ustaz Abu Ihsan Al-Atsaary, dai yang rutin mengisi ceramah di Kajian Sunnah Jakarta, menjelaskan hadis tersebut sebagai petunjuk tentang besarnya kedudukan seorang pemimpin yang mampu menjalankan kekuasaan secara adil.

Namun, di sisi lain, kepemimpinan juga merupakan amanah yang sangat berat. Tanggung jawab tersebut harus dipertanggungjawabkan dan tidak boleh disia-siakan karena ancamannya sangat besar.

“Ancamannya berat. Artinya kepemimpinan dan kekuasaan adalah amanah yang harus dipikul dengan tanggungjawab," ujarnya.

Ancaman bagi Pemimpin yang Mengabaikan Rakyat

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga memperingatkan pemimpin yang menutup diri dan tidak memperhatikan kebutuhan rakyatnya.

مَنْ وَلاَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمُ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ

“Barangsiapa yang Allah serahkan urusan kaum muslimin kepadanya, namun dia menutup diri dengan tidak menunaikan hajat, kebutuhan rakyatnya dan kefakiran mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup dirinya terhadap hajat, kebutuhan dan kefakirannya.” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim dan yang lainnya)

Islam juga menekankan pentingnya menyerahkan amanah kepada orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi untuk menjalankannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا…

“Allah menyuruh kamu untuk menyerahkan amanat itu kepada ahlinya (orang yang berkompeten dan berhak untuk menerima amanah itu)…” (QS. An-Nisa [4]: 58)

Karena beratnya amanah kepemimpinan, para Salaf pada masa dahulu disebut saling menahan diri dan bahkan menolak ketika hendak diangkat atau ditunjuk menjadi pemimpin.

Mereka justru mengalihkan amanah tersebut kepada orang lain yang dipandang lebih pantas dan lebih berhak untuk mengembannya. Sikap itu menunjukkan kehati-hatian mereka terhadap kekuasaan dan kepemimpinan.

Editor : Wahab Firmansyah

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network