Fasilitas pencairan CO₂ ini dirancang memiliki konsumsi listrik maksimum sebesar 188 kilowatt-jam untuk setiap ton produk yang dihasilkan.
Tripatra juga masih terlibat dalam tahapan pengujian kinerja dan keandalan fasilitas. Pengujian dilakukan untuk memastikan pabrik mampu memenuhi target operasional yang telah ditetapkan sebelum mendukung kegiatan produksi KPI secara optimal.
Raymond mengatakan aspek keselamatan, kualitas pekerjaan, dan koordinasi dengan KPI menjadi perhatian dalam pelaksanaan proyek tersebut.
"Dalam setiap tahapnya, keselamatan, kualitas, dan kerja sama yang erat dengan KPI tetap menjadi prioritas kami. Melalui kolaborasi ini, KPI dan Tripatra juga berkomitmen untuk mendorong inovasi berkelanjutan yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan perekonomian nasional," ujarnya.
Bagi KPI, pembangunan pabrik pencairan CO₂ ini menjadi langkah untuk memperluas portofolio produk perusahaan. Selain itu, fasilitas tersebut memungkinkan perusahaan meningkatkan nilai ekonomi dari produk samping proses produksi amonia.
Raymond menilai pemanfaatan produk samping industri menjadi material yang memiliki nilai guna merupakan salah satu peluang dalam mendorong transformasi sektor industri.
"Kami merasa terhormat atas kepercayaan yang diberikan KPI dan meyakini bahwa kolaborasi ini akan membuka peluang baru dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Kami yakin bahwa hadirnya fasilitas ini dapat menjadi tonggak penting dalam transformasi industri, khususnya pemanfaatan produk sampingan (byproduct) industri menjadi materi berdaya guna," tutup Raymond.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
