get app
inews
Aa Text
Read Next : BMKG: Isu Squall Line dan Badai Ekstrem Malam Tahun Baru Hoaks

Warga Bekasi Waib Tahu! Kenapa Tahun Baru Masehi Dirayakan 1 Januari? Ini Sejarah Lengkapnya

Rabu, 31 Desember 2025 | 12:08 WIB
header img
Tahun Baru Masehi merupakan salah satu perayaan paling populer dan dirayakan secara meriah. Foto/Ilustrasi/Istimewa

BEKASI, iNewsBekasi.id- Asal mula perayaan Tahun Baru Masehi menjadi topik menarik untuk diketahui. Pasalnya, Tahun Baru Masehi merupakan salah satu perayaan paling populer dan dirayakan secara meriah di berbagai belahan dunia setiap tanggal 1 Januari.

Perayaan ini menandai awal tahun dalam kalender Gregorian, kalender yang digunakan oleh sebagian besar negara di dunia saat ini. Namun, di balik kemeriahan kembang api dan pesta pergantian tahun, terdapat sejarah panjang serta makna budaya yang beragam di setiap negara.

Sejarah Awal Perayaan Tahun Baru Masehi

Perayaan Tahun Baru Masehi tidak selalu jatuh pada tanggal 1 Januari. Sebelum kalender Gregorian diperkenalkan oleh Paus Gregorius XIII pada 1582, sebagian besar negara Eropa menggunakan kalender Julian yang dibuat oleh Julius Caesar pada 46 SM.

Dalam kalender Julian, tanggal 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun baru karena bertepatan dengan pergantian masa jabatan para pejabat publik di Roma. Namun, kalender ini memiliki kelemahan berupa selisih sekitar 11 menit antara tahun kalender dan tahun matahari.

Akumulasi selisih tersebut membuat kalender Julian mundur sekitar tiga hari setiap empat abad, sehingga perhitungan tanggal penting, seperti Hari Paskah, menjadi tidak akurat.

Untuk mengatasi hal itu, Paus Gregorius XIII mengeluarkan dekrit reformasi kalender yang kemudian dikenal sebagai kalender Gregorian. Reformasi ini menghapus 10 hari dari kalender Julian, sehingga tanggal 4 Oktober 1582 langsung menjadi 15 Oktober 1582.

Selain itu, kalender Gregorian menetapkan aturan baru tahun kabisat, yakni:

Tahun kabisat terjadi setiap empat tahun,

Kecuali tahun yang habis dibagi 100,

Kecuali lagi jika tahun tersebut juga habis dibagi 400.

Dengan sistem ini, kalender Gregorian dinilai lebih akurat dan selaras dengan pergerakan matahari.

Proses Adopsi Kalender Gregorian di Berbagai Negara

Meski lebih akurat, kalender Gregorian tidak langsung diterima semua negara. Sejumlah negara, terutama yang beraliran Protestan, menolak mengadopsinya karena dianggap sebagai produk Gereja Katolik.

Inggris dan koloni-koloninya baru menggunakan kalender Gregorian pada 1752, dengan menghapus 11 hari, sehingga tanggal 2 September 1752 langsung menjadi 14 September 1752. Rusia bahkan baru mengadopsinya pada 1918, setelah Revolusi Bolshevik, dengan menghapus 13 hari dari kalender Julian.

Saat ini, hampir seluruh negara di dunia menggunakan kalender Gregorian sebagai kalender resmi dan merayakan Tahun Baru Masehi setiap 1 Januari, meskipun beberapa budaya tetap memiliki perayaan tahun baru berdasarkan kalender lain.

Tradisi Perayaan Tahun Baru Masehi di Berbagai Negara

Perayaan Tahun Baru Masehi memiliki tradisi dan simbol yang berbeda-beda di setiap negara dan budaya.

Indonesia

Di Indonesia, Tahun Baru Masehi dirayakan dengan pesta kembang api, konser musik, dan berbagai hiburan di ruang publik seperti alun-alun, pantai, dan taman kota. Sebagian masyarakat juga menggelar doa bersama, ziarah makam, atau ibadah sebagai ungkapan rasa syukur.

Di beberapa daerah, terdapat tradisi khas seperti Mandi Safar di Mandar, Sulawesi Barat, yakni mandi bersama di laut atau sungai pada malam tahun baru sebagai simbol penyucian diri.

China

Di China, perayaan Tahun Baru Masehi tidak sebesar Tahun Baru Imlek. Namun, sebagian masyarakat tetap merayakannya dengan membersihkan rumah, memasang dekorasi merah, berbagi angpao, hingga menyantap makanan khas seperti dumpling dan nian gao.

Jepang

Di Jepang, Tahun Baru Masehi dikenal sebagai Shogatsu, salah satu perayaan terpenting. Tradisi yang dilakukan antara lain Osoji (membersihkan rumah), Osechi (makanan khas tahun baru), Hatsumode (berziarah ke kuil), serta mengirim kartu ucapan tahun baru atau Nengajo.

Brasil

Di Brasil, perayaan Tahun Baru Masehi disebut Reveillon dan dirayakan secara besar-besaran, terutama di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro. Jutaan orang mengenakan pakaian putih, menyaksikan kembang api, menari, dan melakukan ritual simbolik seperti melempar bunga ke laut serta memakan tujuh buah anggur sebagai simbol keberuntungan.

Makna Perayaan Tahun Baru Masehi

Mengetahui asal mula perayaan Tahun Baru Masehi membantu kita memahami sejarah, menghargai keberagaman budaya, serta memaknai pergantian tahun sebagai momen refleksi dan harapan baru.

Perayaan ini bukan sekadar pesta, melainkan simbol awal baru, semangat perubahan, dan motivasi untuk meraih tujuan di tahun yang akan datang.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut