get app
inews
Aa Text
Read Next : Dorong Masyarakat Adaptif Hadapi Era Teknologi, DPR dan BRI Gelar Sosialisasi Literasi Digital

Anggota DPR: Anak Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku, Bukti Nyata Kemiskinan Struktural

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:17 WIB
header img
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina. (Foto/Istimewa).

JAKARTA, iNewsBekasi.id- Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina, menilai kasus meninggalnya YBS (10), seorang anak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan potret nyata kemiskinan struktural yang masih terjadi di Indonesia.

Menurut Selly, tragedi tersebut mencerminkan kegagapan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan kehidupan yang layak. Ketika kebutuhan paling elementer seperti buku pelajaran justru menjadi penghalang hidup, maka persoalan yang dihadapi bangsa ini adalah kemiskinan struktural yang belum terselesaikan.

“Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak,” kata Selly dalam siaran persnya, Rabu (4/2/2026).

Sebelumnya, peristiwa bunuh diri YBS (10) menjadi sorotan publik. Siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada itu mengakhiri hidupnya lantaran tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000.

Ibunya, MGT (47), diketahui merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ia harus menghidupi lima orang anak dengan penghasilan yang sangat terbatas.

Selly menilai, dalam banyak keluarga miskin, beban ekonomi kerap dipikul oleh ibu, sementara anak-anak menjadi pihak paling rentan yang menanggung dampaknya secara psikologis dan sosial. Negara, kata dia, tidak boleh menutup mata terhadap realitas tersebut.

Padahal, konstitusi secara tegas menempatkan pendidikan sebagai hak dasar setiap warga negara. Namun, ketika akses pendidikan dasar masih menyisakan biaya tidak langsung yang memberatkan rakyat miskin—seperti buku dan perlengkapan sekolah—maka negara belum sepenuhnya hadir.

“Tragedi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan belum sepenuhnya berpihak pada kelompok paling rentan,” ujar Legislator Dapil Jawa Barat VIII itu.

Dalam Rakernas I PDI Perjuangan Tahun 2026, Selly menjelaskan bahwa partai secara tegas menegaskan garis ideologis keberpihakan kepada wong cilik, perempuan, dan anak. Termasuk mendorong negara untuk memerangi kemiskinan ekstrem, memperkuat perlindungan sosial yang menyentuh akar persoalan, serta memastikan pemenuhan hak dasar rakyat secara nyata, bukan sekadar administratif.

Karena itu, menurut Selly, pendidikan harus dipastikan benar-benar inklusif, bermartabat, dan bebas dari beban yang menyingkirkan anak-anak miskin dari harapan hidupnya.

“PDI Perjuangan menegaskan posisinya sebagai partai penyeimbang yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan secara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi serius bagi negara, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan masa depan, bahkan nyawa akibat kemiskinan dan kelalaian sistem,” tegasnya.

Ia menambahkan, politik sejatinya harus kembali pada hakikatnya untuk melindungi kehidupan, menegakkan keadilan sosial, serta memastikan negara hadir secara nyata bagi mereka yang paling lemah.

Sebagai mitra kerja strategis Komisi VIII DPR RI, Selly menekankan bahwa Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta lembaga terkait lainnya seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencegah tragedi kemanusiaan serupa.

Ia mendesak adanya penguatan dan integrasi program perlindungan sosial, mulai dari bantuan sosial adaptif, jaminan pemenuhan kebutuhan dasar anak, hingga pendampingan psikososial bagi keluarga rentan. Seluruh kebijakan tersebut harus dijalankan secara proaktif dan berbasis data lapangan, bukan sekadar menunggu laporan atau kejadian ekstrem.

“Negara tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, tetapi harus memperkuat kapasitas keluarga miskin, terutama yang memiliki anak usia sekolah, melalui penguatan ekonomi, akses pendidikan yang utuh, dan pendampingan sosial berbasis kebutuhan nyata di lapangan, agar kemiskinan tidak terus diwariskan lintas generasi,” tuturnya.

Peringatan: Isi artikel ini berkaitan dengan topik bunuh diri. Bagi Anda yang sedang mengalami tekanan mental atau pikiran menyakiti diri, disarankan untuk segera berkonsultasi ke psikolog, psikiater, atau layanan bantuan psikologis terpercaya.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut