Mengenal Tradisi Perempuan Sumba, Merawat Tenun Tetap Lestari
JAKARTA, iNewsBekasi.id - Tradisi menenun telah lama menjadi denyut kehidupan perempuan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Bagi masyarakat setempat, kemampuan menenun bukan sekadar keterampilan tangan, melainkan identitas yang melekat kuat sejak usia dini.
Diana Kalera Lena, perempuan asli Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan menenun bukan sekadar keterampilan, melainkan tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan perempuan Sumba sejak usia belia. Hal ini juga terjadi pada dirinya.
“Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu butuh proses panjang. Sejak usia enam tahun saya sudah membantu Ibu saya dan mulai menenun sendiri pada usia 17 tahun,” kata Diana pada siniar di mini studio BCA Expoversary 2026, Kamis (5/2/2026).
Lekatnya keterikatan tradisi menenun dengan kehidupan dan identitas wanita di Sumba ini tidak lepas dari perhatian PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Melalui program pelatihan wastra warna alam, Bakti BCA memberikan pembinaan kepada kelompok penenun di Sumba dengan menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Diana pun menjadi salah satu penenun yang dibina melalui program tersebut.
Program pembinaan ini melibatkan 50 peserta dari 4 komunitas, yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, dengan rentang usia 25 - 45 tahun. Peserta didominasi penenun perempuan serta didukung oleh keterlibatan laki - laki sebagai pendukung ekosistem, khususnya pada pengembangan motif dan pengolahan bahan warna alam.
Diana memiliki peran penting dalam kolaborasi antara komunitas penenun di tempat tinggalnya dengan program tersebut. Dia menjadi penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dengan program pelatihan wastra warna alam, kemudian mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta program itu.
Menurut Diana, keikutsertaan dalam pelatihan wastra warna alam membawa manfaat tidak sedikit. Salah satunya adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami, yang selama ini tidak diwariskan secara tertib meskipun merupakan bagian dari warisan leluhur.
“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program ini kami diajarkan soal pewarna alam ini,” tutur dia.
Selama ini, para penenun telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian masih mengandalkan pewarna sintetis akibat keterbatasan pengetahuan tentang peracikan dan proses pewarnaan alami. Melalui pelatihan wastra warna alam, pengetahuan tersebut mulai dibagikan secara lebih terstruktur. Para penenun diperkenalkan pada bahan-bahan alami serta tahapan pengolahan hingga penerapannya pada benang dan kain, sehingga mampu menguasai proses produksi secara lebih utuh.
Ilmu yang diperoleh dari program ini membantu para penenun menghasilkan karya bernilai tambah yang menjadi sumber penghasilan. Penggunaan pewarna alami tidak hanya memperkuat nilai budaya wastra Sumba, tetapi juga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.
"Saya sudah merasakan manfaatnya. Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk dalam membiayai sekolah anak. Warisan budaya ini tentunya harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” kata Diana.
Sementara, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan pihaknya tidak
hanya berupaya memberikan dampak untuk individu dan komunitas, juga berupaya mempermudah akses produk-produk yang dihasilkan komunitas agar semakin dikenal banyak orang dan meluas pasarnya.
Para penenun Sumba, kata Hera, menjadi tangan yang menjaga warisan budaya Indonesia harus mendapatkan dukungan. Melalui program pembinaan ini, pihaknya ingin memastikan keahlian penenun tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, juga mampu bersaing di pasar modern.
"Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi para pengrajin lokal,” ucap Hera.
Editor : Tedy Ahmad