7 Peristiwa Penting Bulan Dzulqa'dah, Nabi Muhammad SAW Lakukan Haji Wada
BEKASI, iNewsBekasi.id - Peristiwa di Bulan Dzulqa'dah penting diketahui umat Islam. Pasalnya, Dzulqa’dah merupakan bulan ke-11 dalam penanggalan Hijriah yang termasuk empat bulan yang dimuliakan Allah SWT.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram (mulia). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS. At-Taubah: 36)
Banyak peristiwa yang patut diambil hikmah dan pembelajarannnya terkait dengan ditetapkannya bulan Dzulqa’dah dikategorikan salah satu bulan mulia oleh Allah Swt. Berikut beberapa peristiwa yang dapat diambil hikmahnya.
Perjanjian Hudaibiyah ini terjadi pada tahun keenam setelah Rasulullah Saw., hijrah ke kota Madinah. Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara kaum muslimin yang diketuai oleh Rasulullah langsung, dengan kaum Quraisy yang berada di kota Makkah. Saat itu Rasulullah bersama dengan para sahabat (jamaah haji), dilarang memasuki kota Makkah.
Pada salah satu poin perjanjian Hudaibiyah tersebut, pihak Quraisy sepakat untuk tidak berperang dengan kaum muslimin selama 10 tahun. Setelah disepakati, Rasulullah pulang ke Madinah walaupun ada sebagian sahabat yang tidak setuju dengan perjanjian Hudaibiyah tersebut.
Peristiwa di Bulan Dzulqa'dah berikutnya yakni, Rasulullah Saw., selama hidupnya pernah melaksanakan ibadah umrah sebanyak empat (4) kali, dan pelaksanaannya dilaksanakannya pada bulan Dzulqa’dah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik Ra:
اعْتَمَرَ رَسُولُ اللهِ صلعم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ
Rasulullah Saw. berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji.
Peristiwa di Bulan Dzulqa'dah berikutnya yakni Nabi Muhammad SAW melakukan haji wada (haji perpisahan). Setelah pelaksanaan haji wada Rasulullah tidak lagi melaksanakan ibadah haji karena beliau wafat beberapa bulan setelahnya.
Rasulullah Saw. dengan para sahabatnya melaksanakan ibadah haji ini dimulai perjalannya dari Madinah menuju Makkah sejak bulan Dzulqa’dah, sampai beliau melaksanakan puncak ibadah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriyah dengan melakukan wukuf di Arafah.
Peristiwa selanjutnya di Bulan Dzulqa'dah yakni sahabat dekat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat. Abu Bakar Ash-Shiddiq ini adalah sahabat istimewa Nabi SAW, karena Abu Bakar termasuk golongan Assabiquunal awwaluun (golongan yang pertama masuk Islam).
Abu Bakar sosok yang menemani perjalanan beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Abu Bakar ash-Shiddiq wafat pada tanggal 22 Dzulqa’dah, tiga tahun setelah Rasulullah wafat.
Berikutnya peristiwa di Bulan Dzulqa’dah, paman Nabi SAW, Abu Thalib wafat. Abu Thalib adalah pelindung dan tameng dakwah Rasulullah SAW.
Pada bulan Dzulqadah tahun kelima Hijriah, terjadi peristiwa penting berupa Perang Bani Quraizhah. Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab sirahnya mencatat bahwa sehari setelah Rasulullah SAW kembali ke Madinah, Malaikat Jibril mendatangi beliau pada waktu Zuhur.
Jibril menyampaikan pesan bahwa para malaikat belum meletakkan senjata mereka dan meminta Rasulullah untuk berangkat bersama para sahabat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Jibril berjanji akan berjalan di depan mereka untuk mengguncangkan benteng-benteng musuh dan menanamkan ketakutan di hati mereka.
Menanggapi pesan ini, Rasulullah segera memerintahkan para sahabat untuk berangkat ke pemukiman Bani Quraizhah dengan pesan agar tidak melaksanakan shalat Ashar hingga tiba di tempat tujuan. Setibanya di sana, pasukan Muslim mengepung benteng-benteng Bani Quraizhah selama 25 malam (menurut riwayat lain 25 hari).
Pengepungan ini berhasil menanamkan rasa takut di hati mereka sehingga akhirnya mereka menyerah dan bersedia tunduk pada keputusan hukum Rasulullah SAW. Peristiwa ini secara tegas disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman terjadi pada bulan Dzulqadah tahun kelima Hijriah.
Selain peristiwa umrah Rasulullah, bulan Dzulqadah juga menjadi saksi peristiwa spiritual luar biasa lainnya, yaitu pertemuan langsung antara Nabi Musa AS dengan Allah SWT.
Pada bulan ini, Nabi Musa AS menerima wahyu berupa kitab Taurat dan berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Alqur'an dalam Surah Al-Araf ayat 143 mengabadikan momen ini:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"."Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan telah berfirman (langsung) kepadanya (Musa)."
Menurut penafsiran Imam Ibnu Katsir ad-Dimisyqi yang mengutip pendapat mayoritas ulama tafsir seperti Imam Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraih, peristiwa agung komunikasi langsung antara Allah dan Nabi Musa AS ini terjadi pada bulan Dzulqadah.
Wallahu A'lam
Editor : Tedy Ahmad