Fakta Malam 1 Suro dan Muharram: Dari Kalender Sultan Agung hingga Puasa Asyura
JAKARTA, iNewsBekasi.id – Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dalam penanggalan Jawa, momen tersebut juga bertepatan dengan 1 Sura 1960, yang dikenal masyarakat sebagai Malam 1 Suro.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh makna spiritual. Berbagai tradisi pun masih dilakukan hingga kini, mulai dari tirakat, kungkum atau berendam di sumber mata air, hingga ritual membersihkan pusaka.
Namun di balik tradisi yang berkembang, Malam 1 Suro memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan penyebaran Islam di tanah Jawa.
Tradisi Malam 1 Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Kesultanan Mataram Islam yang memerintah pada 1613-1645.
Pada masa itu, masyarakat Jawa masih menggunakan Kalender Saka yang berasal dari tradisi Hindu dan berbasis peredaran matahari. Di sisi lain, masyarakat pesisir yang telah banyak memeluk Islam menggunakan kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan.
Untuk menyatukan kedua sistem tersebut, Sultan Agung mengeluarkan dekrit pada tahun 1625 Masehi atau 1547 Saka. Ia mengganti sistem penanggalan Saka menjadi kalender lunar seperti kalender Hijriah, namun tetap mempertahankan angka tahunnya.
Kebijakan tersebut melahirkan Kalender Jawa Islam yang kemudian digunakan secara luas di wilayah Kesultanan Mataram, meliputi hampir seluruh Pulau Jawa dan Madura.
Hingga kini, tradisi Malam 1 Suro masih diperingati oleh Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta sebagai penerus Kesultanan Mataram.
Berbeda dengan masyarakat umum yang lebih menitikberatkan pada malam 1 Suro, kalangan pesantren memiliki tradisi Suronan yang biasanya diperingati pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura.
Istilah "Suro" sendiri berasal dari bahasa Arab, yakni "Asyura" yang berarti hari kesepuluh.
Menurut Ensiklopedi NU, Suronan merupakan tradisi yang telah berlangsung lama di lingkungan pesantren. Hari Asyura diyakini memiliki banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi.
Dalam sejumlah literatur klasik disebutkan bahwa tanggal 10 Muharram menjadi momentum berbagai peristiwa besar, di antaranya diterimanya taubat Nabi Adam AS, diangkatnya Nabi Idris AS ke langit, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, hingga disembuhkannya Nabi Ayyub AS dari penyakit yang dideritanya.
Selain itu, Hari Asyura juga dikaitkan dengan peristiwa keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan, pertemuan kembali Nabi Yusuf AS dan Nabi Yaqub AS, serta kelahiran dan diangkatnya Nabi Isa AS ke langit.
Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbanyak ibadah, memohon ampunan kepada Allah SWT, berpuasa sunnah, serta meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah.
Editor : Wahab Firmansyah