get app
inews
Aa Text
Read Next : Ini 7 Larangan Penting di Bulan Muharram, Nomor 6 Sering Dilakukan Tanpa Sadar

Fakta Malam 1 Suro dan Muharram: Dari Kalender Sultan Agung hingga Puasa Asyura

Senin, 15 Juni 2026 | 13:22 WIB
header img
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Foto/Ilustrrasi/istimewa

JAKARTA, iNewsBekasi.id – Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dalam penanggalan Jawa, momen tersebut juga bertepatan dengan 1 Sura 1960, yang dikenal masyarakat sebagai Malam 1 Suro.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh makna spiritual. Berbagai tradisi pun masih dilakukan hingga kini, mulai dari tirakat, kungkum atau berendam di sumber mata air, hingga ritual membersihkan pusaka.

Namun di balik tradisi yang berkembang, Malam 1 Suro memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan penyebaran Islam di tanah Jawa.

Sejarah Munculnya Tradisi Malam 1 Suro

Tradisi Malam 1 Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Kesultanan Mataram Islam yang memerintah pada 1613-1645.

Pada masa itu, masyarakat Jawa masih menggunakan Kalender Saka yang berasal dari tradisi Hindu dan berbasis peredaran matahari. Di sisi lain, masyarakat pesisir yang telah banyak memeluk Islam menggunakan kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan.

Untuk menyatukan kedua sistem tersebut, Sultan Agung mengeluarkan dekrit pada tahun 1625 Masehi atau 1547 Saka. Ia mengganti sistem penanggalan Saka menjadi kalender lunar seperti kalender Hijriah, namun tetap mempertahankan angka tahunnya.

Kebijakan tersebut melahirkan Kalender Jawa Islam yang kemudian digunakan secara luas di wilayah Kesultanan Mataram, meliputi hampir seluruh Pulau Jawa dan Madura.

Hingga kini, tradisi Malam 1 Suro masih diperingati oleh Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta sebagai penerus Kesultanan Mataram.

Tradisi Suronan di Kalangan Pesantren

Berbeda dengan masyarakat umum yang lebih menitikberatkan pada malam 1 Suro, kalangan pesantren memiliki tradisi Suronan yang biasanya diperingati pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura.

Istilah "Suro" sendiri berasal dari bahasa Arab, yakni "Asyura" yang berarti hari kesepuluh.

Menurut Ensiklopedi NU, Suronan merupakan tradisi yang telah berlangsung lama di lingkungan pesantren. Hari Asyura diyakini memiliki banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi.

Dalam sejumlah literatur klasik disebutkan bahwa tanggal 10 Muharram menjadi momentum berbagai peristiwa besar, di antaranya diterimanya taubat Nabi Adam AS, diangkatnya Nabi Idris AS ke langit, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, hingga disembuhkannya Nabi Ayyub AS dari penyakit yang dideritanya.

Selain itu, Hari Asyura juga dikaitkan dengan peristiwa keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan, pertemuan kembali Nabi Yusuf AS dan Nabi Yaqub AS, serta kelahiran dan diangkatnya Nabi Isa AS ke langit.

Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbanyak ibadah, memohon ampunan kepada Allah SWT, berpuasa sunnah, serta meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah.

Keutamaan Puasa Asyura

Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram adalah puasa Asyura pada 10 Muharram.

Rasulullah SAW pernah mencontohkan ibadah tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari:

"Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari ‘Asyuro, beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Jawab mereka, ‘Hari ini hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, karena itu Musa mempuasainya.’ Sabda Nabi SAW, ‘Aku lebih berhak daripadamu dengan Musa.’ Karena itu Nabi SAW mempuasainya dan menyuruh mempuasainya.” (HR Al-Bukhari).

Karena keutamaannya tersebut, banyak pesantren yang mengajak para santri menjalankan puasa Asyura sebagai bentuk meneladani Rasulullah SAW.

Bubur Merah Putih dan Makna Filosofinya

Tradisi Suronan di pesantren juga identik dengan penyajian bubur merah dan bubur putih.

Bubur merah yang manis berasal dari gula merah, sedangkan bubur putih memiliki cita rasa gurih. Kedua warna tersebut melambangkan dualitas kehidupan yang selalu berdampingan, seperti siang dan malam, laki-laki dan perempuan, serta kebaikan dan keburukan.

Dalam tradisi Jawa, bulan Suro juga sering dikaitkan dengan perenungan spiritual dan pengendalian diri agar manusia mampu memilih jalan kebaikan dalam kehidupannya.

Tradisi Malam 1 Suro di Masyarakat Jawa

Sebagian masyarakat Jawa masih memaknai Malam 1 Suro sebagai momentum spiritual yang penting. Berbagai ritual tirakat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Beberapa di antaranya adalah patigeni, yakni laku tapa dengan tidak tidur dan tidak makan selama kurun waktu tertentu. Ada pula tradisi kungkum atau berendam di sungai dan sumber mata air yang dianggap memiliki nilai spiritual.

Selain itu, pemilik benda pusaka seperti keris dan benda warisan leluhur biasanya melakukan ritual pembersihan atau jamasan pusaka pada malam tersebut.

Meski demikian, para ulama mengingatkan agar umat Islam tetap menjadikan bulan Muharram sebagai momentum memperbanyak ibadah, doa, dzikir, sedekah, dan puasa sunnah sesuai tuntunan syariat Islam.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut