get app
inews
Aa Text
Read Next : Ekosistem Aset Digital Syariah Indonesia Mulai Dibangun, dari Tokenisasi hingga Kripto Halal

AI Indonesia Masuk Babak Baru, Tak Lagi Sekadar Chatbot

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:08 WIB
header img

JAKARTA, iNewsBekasi.id- Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia mulai bergerak ke tingkat yang lebih kompleks. Teknologi ini tidak lagi hanya dimanfaatkan untuk membalas pertanyaan pelanggan melalui chatbot, tetapi berkembang menjadi Agentic AI yang mampu memahami kebutuhan pengguna, menyimpan riwayat interaksi, memberikan rekomendasi, hingga membantu menjalankan alur bisnis.

Perubahan tersebut terjadi seiring meningkatnya pemanfaatan AI oleh perusahaan lintas sektor untuk mendorong produktivitas, efisiensi operasional, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan.

Co-Founder dan Chief Technology Officer (CTO) Covena AI Jason Tjahjono mengatakan kebutuhan dunia usaha terhadap AI kini berkembang jauh melampaui kemampuan menjawab pesan otomatis.

“Banyak AI terlihat canggih saat demo. Tapi begitu dicoba langsung, jawaban AI-nya tidak sesuai ekspektasi. Banyak pebisnis sudah mempercayakan Covena sebagai revenue channel mereka. Karena itu, kami membangun infrastruktur AI dengan kualitas sebagai prioritas utama agar tetap diandalkan ketika AI sudah digunakan pelanggan dalam operasional sehari-hari,” kata Jason, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, tantangan penerapan AI bukan hanya menghasilkan respons cepat, tetapi memastikan jawaban tetap akurat dan relevan secara konsisten. Karena itu, Covena AI mengembangkan AI Sales Agent dengan kemampuan self-improving yang memungkinkan AI terus belajar dari interaksi pelanggan.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, Covena AI mengklaim telah dipercaya berbagai perusahaan enterprise lintas industri, antara lain Garuda Indonesia, AYANA Bali, CoLearn, ALVA Auto, dan AECC. Tingkat akurasi respons AI disebut mencapai lebih dari 97% dalam menangani ribuan pesan setiap hari.

Jason menilai perkembangan tersebut menunjukkan AI mulai bergeser dari customer service automation menjadi teknologi yang terintegrasi dengan proses bisnis. AI Sales Agent kini dilengkapi Customer Memory, AI-native CRM, analitik bisnis dan pemasaran, serta integrasi dengan berbagai platform untuk penjadwalan, pembayaran, pengiriman, dan pengelolaan pelanggan.

Integrasi tersebut mencakup Google Maps, Calendar, dan Sheets, layanan Grab, Gojek, Lalamove, hingga payment gateway Xendit dan Stripe.

“Tujuannya bukan sekadar membuat AI bisa membalas chat, tetapi bagaimana setiap percakapan dengan pelanggan dapat menjadi bagian dari proses bisnis yang menghasilkan nilai dan revenue,” tutur Jason.

Covena juga mengembangkan fitur Automations untuk follow-up dan pengingat pembayaran, Pass Back to AI untuk kolaborasi AI dan agen manusia, Ticket Intelligence untuk menganalisis percakapan, serta Co-pilot Mode dan Watchtower untuk menjaga kualitas respons AI.

Pemanfaatan AI tersebut mulai memberikan dampak di berbagai sektor. Pada Garuda Indonesia, integrasi layanan melalui WhatsApp untuk pemesanan tiket, GarudaMiles, refund, rescheduling hingga online check-in disebut menghasilkan revenue sekitar Rp1,675 miliar. Dalam satu bulan, lebih dari 71.000 percakapan pelanggan ditangani AI dengan CSAT 4,34 dari skala 5.

Pada CoLearn, AI menangani lebih dari 150.000 percakapan dengan akurasi di atas 97% dan disebut menghasilkan tambahan revenue hingga ratusan juta rupiah dan menurunkan biaya akuisisi pelanggan hingga 25%.

Sementara AECC Indonesia memanfaatkan AI untuk memperkuat komunikasi dengan lebih dari 20.000 siswa dan membantu akuisisi lebih dari 500 siswa baru dalam tiga hingga empat bulan.

Di ALVA Auto, implementasi AI untuk otomatisasi penjualan dan customer engagement disebut menghasilkan tambahan revenue lebih dari Rp588 juta per kuartal dan menangani lebih dari 16.000 percakapan pelanggan.

Perkembangan itu menunjukkan AI mulai ditempatkan bukan hanya sebagai alat untuk mengurangi pekerjaan administratif, tetapi sebagai bagian dari strategi penjualan, pelayanan, analitik, dan pengambilan keputusan bisnis.

Jason mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan AI mampu beradaptasi dengan workflow perusahaan sekaligus tetap berkolaborasi dengan tenaga manusia.

“AI harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan bisnis, berkolaborasi dengan tim manusia, dan memberikan kualitas layanan yang konsisten,” ujarnya.

Perubahan dari chatbot menuju Agentic AI menandai babak baru adopsi kecerdasan buatan di Indonesia. AI berpeluang berkembang dari teknologi pendukung menjadi bagian dari infrastruktur bisnis yang bekerja sepanjang waktu dan terhubung langsung dengan proses penjualan, pelayanan, serta penciptaan revenue.

Editor : Tedy Ahmad

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut