Erupsi Gunung Anak Krakatau Disebut Rekayasa? Ahli: Tak Masuk Akal Secara Sains
Selain aktivitas kegempaan, instrumen geodesi presisi seperti GPS dan sensor tiltmeter juga dapat mendeteksi perubahan pada tubuh gunung api.
Perubahan tersebut berupa deformasi atau pembengkakan tubuh gunung yang dapat terjadi jauh sebelum letusan. Pemantauan juga mencakup perubahan rasio konsentrasi gas kimia dan peningkatan suhu.
Seluruh proses akumulasi massa dan energi tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif panjang, mulai dari hitungan bulan hingga tahun di dalam kerak bumi.
Data aktivitas tersebut dapat direkam oleh berbagai instrumen geofisika sehingga memberikan bukti bahwa erupsi merupakan bagian dari siklus alamiah bumi.
Dari perspektif hukum fisika, Daryono mengatakan lapisan batuan padat dengan ketebalan puluhan kilometer memiliki kemampuan meredam gelombang elektromagnetik dalam jarak yang sangat pendek.
Dengan kondisi tersebut, tidak terdapat mekanisme interaksi fisik yang memungkinkan sinyal buatan manusia digunakan untuk menggerakkan magma yang berada jauh di dalam bumi.
Daryono juga menegaskan manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk mengendalikan pergerakan jutaan meter kubik magma dengan suhu yang dapat mencapai 1.200 derajat Celsius.
"Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak," katanya.
Editor: Wahab Firmansyah