Wisuda UIC 2026, 486 Lulusan Diminta Siap Hadapi Era AI dan Persaingan Global
JAKARTA, iNewsBekasi.id– Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta mewisuda 486 lulusan program sarjana dan magister Tahun Akademik 2025/2026 dalam prosesi yang digelar di Puri Ardhya Garini, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Ratusan lulusan tersebut berasal dari lima unit akademik, yakni Fakultas Sains dan Kesehatan, Fakultas Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial, Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum dan Humaniora, serta Sekolah Pascasarjana.
Dalam momentum wisuda UIC 2026 ini, para lulusan mendapat pesan agar siap menghadapi perubahan dunia yang dipengaruhi perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), transformasi digital, hingga dinamika ekonomi global.
Rektor UIC Dr. Hj. Rahmah Marsinah mengatakan pendidikan tinggi tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk karakter serta pola pikir adaptif.
Menurutnya, perubahan teknologi dan sosial yang berlangsung cepat menuntut lulusan untuk terus belajar dan mampu beradaptasi.
“Keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi yang dapat Saudara capai, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat Saudara berikan,” ujar Rahmah dalam keterangannya, Rabu (7/10/2026).
Ketua Umum Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun (YPPIC), Edy Haryanto, menegaskan kelulusan bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, persaingan global dan perkembangan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang kuat.
“Sebagai lulusan Universitas Ibnu Chaldun, jadikan ilmu yang Saudara peroleh sebagai bekal untuk berkarya, memberikan manfaat, dan membangun masyarakat serta bangsa,” pesannya.
Kepala LLDIKTI Wilayah III Henri Togar Hasiholan Tambunan menyoroti perubahan dunia kerja yang dipengaruhi otomatisasi dan efisiensi industri di berbagai sektor.
Menurut Henri, kompetensi teknis saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan profesional. Karena itu, lulusan perguruan tinggi didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang dan lapangan pekerjaan.
“Kompetensi tersebut harus tetap dilandasi nilai keimanan dan moral. Hal ini sejalan dengan identitas UIC yang mengusung semangat menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta kokoh dalam iman dan takwa (IMTAQ),” kata Henri.
Senada dengan itu, Koordinator Kopertais Wilayah I Asep Saepudin Jahar menilai kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting di tengah perubahan zaman. “Tapi yang jauh lebih penting adalah kecerdasan di dalam beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.
Rangkaian wisuda turut diisi orasi ilmiah oleh Analis Kebijakan Utama Bidang Jianbang Lemdiklat Polri Irjen Pol Andry Wibowo dengan tema “Membangun Generasi Unggul, Berintegritas, Prediktif, dan Berkarakter: Menyiapkan Pemimpin Masa Depan yang Tangguh di Era Transformasi Global.”
Dalam orasinya, Andry mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan ijazah atau gelar, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir, mengambil keputusan, bekerja, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Ia menilai generasi muda saat ini menghadapi tantangan kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, otomatisasi, ancaman siber, penyebaran hoaks, perundungan, hingga menurunnya kepedulian sosial.
“Pintar saja tidak lagi cukup; kita butuh generasi yang utuh,” tegasnya.
Menurut Andry, kecerdasan buatan akan mengubah cara manusia belajar, bekerja, menganalisis informasi, hingga mengambil keputusan. Perkembangan machine learning, deep learning, dan generative AI membuka peluang besar, namun tetap memerlukan tanggung jawab manusia.
“AI dapat membantu manusia, tetapi manusia tetap harus menentukan tujuan, nilai, batas, dan pertanggungjawaban penggunaannya,” ujarnya.
Ia menegaskan mahasiswa tidak perlu takut terhadap AI, tetapi juga tidak boleh menyerahkan seluruh kemampuan berpikir kepada teknologi. AI harus dimanfaatkan untuk memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikan tanggung jawab berpikir.
Andry juga menekankan empat fondasi penting generasi masa depan, yakni unggul, berintegritas, prediktif, dan berkarakter. Keempat aspek tersebut dinilai menjadi modal utama untuk menghadapi perubahan global sekaligus memastikan kemajuan teknologi tetap berpihak pada nilai kemanusiaan.
Editor: Wahab Firmansyah