Pabrik CO2 Cair Terbesar di Indonesia Resmi Berdiri di Bontang, Kapasitas 300 Ton per Hari
BEKASI, iNewsBekasi.id- Fasilitas pencairan karbon dioksida (CO₂) berkapasitas 300 metrik ton per hari resmi beroperasi di Bontang, Kalimantan Timur. Pabrik milik PT Kaltim Parna Industri (KPI) tersebut diresmikan pada 22 Oktober 2026 dan dibangun dengan dukungan PT Tripatra Engineers and Constructors (Tripatra).
Dalam proyek ini, Tripatra bertindak sebagai kontraktor dengan lingkup pekerjaan engineering, procurement, and construction (EPC), mulai dari rekayasa teknik, pengadaan hingga konstruksi fasilitas.
Pabrik tersebut mengolah karbon dioksida (CO₂) yang merupakan produk samping dari proses produksi amonia KPI menjadi karbon dioksida cair atau liquid CO₂ (LCO₂) yang memiliki nilai komersial.
Melalui proses pemurnian dan pencairan, produk yang dihasilkan dirancang memenuhi standar untuk kebutuhan industri maupun pangan, termasuk sektor makanan dan minuman.
President Director & CEO Tripatra, Raymond Naldi Rasfuldi, mengatakan pembangunan fasilitas tersebut merupakan bentuk kepercayaan KPI kepada Tripatra dalam mendukung pengembangan industri petrokimia.
"Kepercayaan tersebut merupakan tanggung jawab sekaligus kebanggaan bagi kami untuk turut mendukung pengembangan usaha KPI. Tripatra sebagai kontraktor penyedia solusi berbasis rekayasa teknik, mendukung KPI untuk mewujudkan fasilitas pabrik pencairan CO2 terbesar di Indonesia, serta menjadi yang pertama di Pulau Kalimantan dan wilayah Indonesia Timur. Pencapaian ini merupakan hasil kerja bersama, ketekunan, dan komitmen seluruh tim KPI, Tripatra, serta para mitra yang terlibat," ujar Raymond dalam keterangannya Sabtu (31/10/2026).
Pemanfaatan CO₂ dari proses produksi amonia tersebut menerapkan konsep *Carbon Capture and Utilization* (CCU), yakni teknologi penangkapan dan pemanfaatan kembali karbon dioksida untuk menghasilkan produk yang dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan industri.
Dengan teknologi tersebut, CO₂ yang sebelumnya menjadi produk samping produksi amonia dapat diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Fasilitas pencairan CO₂ ini dirancang memiliki konsumsi listrik maksimum sebesar 188 kilowatt-jam untuk setiap ton produk yang dihasilkan.
Tripatra juga masih terlibat dalam tahapan pengujian kinerja dan keandalan fasilitas. Pengujian dilakukan untuk memastikan pabrik mampu memenuhi target operasional yang telah ditetapkan sebelum mendukung kegiatan produksi KPI secara optimal.
Raymond mengatakan aspek keselamatan, kualitas pekerjaan, dan koordinasi dengan KPI menjadi perhatian dalam pelaksanaan proyek tersebut.
"Dalam setiap tahapnya, keselamatan, kualitas, dan kerja sama yang erat dengan KPI tetap menjadi prioritas kami. Melalui kolaborasi ini, KPI dan Tripatra juga berkomitmen untuk mendorong inovasi berkelanjutan yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan perekonomian nasional," ujarnya.
Bagi KPI, pembangunan pabrik pencairan CO₂ ini menjadi langkah untuk memperluas portofolio produk perusahaan. Selain itu, fasilitas tersebut memungkinkan perusahaan meningkatkan nilai ekonomi dari produk samping proses produksi amonia.
Raymond menilai pemanfaatan produk samping industri menjadi material yang memiliki nilai guna merupakan salah satu peluang dalam mendorong transformasi sektor industri.
"Kami merasa terhormat atas kepercayaan yang diberikan KPI dan meyakini bahwa kolaborasi ini akan membuka peluang baru dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Kami yakin bahwa hadirnya fasilitas ini dapat menjadi tonggak penting dalam transformasi industri, khususnya pemanfaatan produk sampingan (byproduct) industri menjadi materi berdaya guna," tutup Raymond.
Editor: Wahab Firmansyah