Khutbah Idulfitri: Wasiat Nabi Ya'qub AS dan Kurikulum Luqman untuk Kita

Azhar Azis
Khutbah Idulfitri: Wasiat Nabi Ya'qub AS dan Kurikulum Luqman untuk Kita Hari ini, embun Idul Fitri menyapa kita dengan kelembutan. Foto/Ilustrasi/MPI

ALLAHU AKBAR, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Hari ini, embun Idul Fitri menyapa kita dengan kelembutan. Langit berseri seolah memeluk kemenangan orang-orang beriman yang telah berjuang melawan hawa nafsu di medan Ramadan. 

Kita duduk di antara saudara-saudara kita, di tanah yang damai, di negeri yang langitnya tidak berwarna merah oleh ledakan, dan anginnya tidak membawa debu reruntuhan.

Namun, di ufuk jauh, di tanah Palestina, di Gaza yang tercabik, suara takbir bergema di antara puing-puing. Mereka menyambut hari kemenangan ini bukan di atas hamparan sajadah bersih, melainkan di antara reruntuhan rumah yang hancur oleh bom. 

Di sana, anak-anak sujud dalam pelukan tanah, merasakan dinginnya bumi yang menjadi saksi kezaliman. Ibu-ibu mereka mengangkat tangan dalam doa, bukan meminta hidangan Lebaran yang lezat, melainkan memohon agar langit berhenti menurunkan maut di atas kepala mereka.

Di Gaza, takbir adalah jeritan pilu yang menggema di langit kelam. Di Indonesia, takbir adalah nyanyian syukur yang merdu di tengah kedamaian.

Kita yang berada di negeri yang Allah berkahi dengan keamanan ini, betapa sering kita lalai mensyukuri nikmat-Nya. Kita merayakan Idul Fitri dengan tangan yang bebas menggenggam makanan lezat, sementara di Gaza, tangan-tangan itu hanya menggenggam doa dan harapan. 

Kita berpakaian terbaik, sedang mereka hanya memiliki pakaian yang berlumur debu dan darah. Kita saling berpelukan penuh suka cita, sementara mereka saling berpelukan untuk bertahan di tengah kepungan maut.

Saudaraku, di tanah yang damai ini, Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah, membasuh diri dari dosa. Di Gaza, Idul Fitri adalah pengingat bahwa fitrah manusia adalah memperjuangkan keadilan di atas bumi Allah.

Pada hari kebahagiaan ini, mari kita merenung sejenak. Apakah kemenangan ini hanya kemenangan fisik semata—kemenangan setelah sebulan berpuasa—atau apakah kita juga meraih kemenangan yang lebih hakiki: kemenangan dalam mendidik anak-anak kita?

Judul Khutbah hari ini: Wasiat Nabi Ya'qub AS dan Kurikulum Luqman untuk Kita 

Di tengah kegembiraan hari ini, kita harus bertanya pada diri kita sendiri, apa yang telah kita persiapkan untuk masa depan anak-anak kita? 

Di zaman yang penuh dengan fitnah dan godaan, di mana informasi mengalir dengan deras, apakah kita sudah cukup memberikan pendidikan yang dapat membimbing mereka agar tetap pada jalan yang benar? Apakah kita telah menanamkan akhlak mulia dan tauhid yang kokoh dalam hati mereka? Apakah kita sudah menjadi benteng yang kokoh bagi mereka dari godaan dunia yang serba bebas?

Saudaraku, di dalam Surah Yusuf (12:6), Allah menceritakan sebuah momen penuh makna, ketika Nabi Ya'qub memberikan wasiat terakhirnya kepada anak-anaknya. Saat beliau menghadap maut, beliau bertanya kepada anak-anaknya, sebuah pertanyaan yang sangat dalam dan sarat makna:
مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

(“Apa yang akan kalian sembah setelah aku?”)
(QS. Yusuf: 6)

Nabi Ya'qub, dengan penuh kasih sayang dan keprihatinan, mengajarkan anak-anaknya untuk tidak pernah melupakan Allah. Dalam saat-saat terakhirnya, beliau berwasiat agar mereka tetap berpegang teguh pada tauhid, meskipun dunia ini akan terus berputar dan beliau akan tiada. 

Beliau bertanya kepada anak-anaknya dengan harapan agar mereka tidak terperdaya oleh godaan dunia yang fana, agar mereka tidak terjerumus dalam penyembahan selain Allah.

Saudaraku, mari kita renungkan wasiat Nabi Ya'qub ini. "Apa yang akan kalian sembah setelah kematianku?" Ini bukan hanya pertanyaan seorang ayah kepada anak-anaknya, tetapi sebuah peringatan bagi kita semua. Dunia ini penuh dengan godaan dan informasi yang tiada batasnya, namun hanya satu yang harus kita sembah: Allah Yang Maha Esa. 

Kita harus mengajarkan kepada anak-anak kita, seperti yang diwasiatkan oleh Nabi Ya'qub, untuk tidak terperangkap dalam penyembahan selain Allah. Apa yang mereka sembah, itu yang akan membentuk mereka, itu yang akan menuntun mereka menuju jalan yang benar atau jalan yang salah.

Di dalam Al-Qur'an Surah Luqman, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan nasihat bijak Luqman yang ditujukan kepada anaknya, yang merupakan kurikulum pendidikan yang tidak hanya relevan untuk anak-anak pada zaman itu, tetapi juga untuk kita, para orang tua di zaman ini. 

Dalam setiap kalimat yang beliau sampaikan, terkandung ajaran yang sangat mendalam untuk kita jadikan pedoman dalam mendidik generasi penerus yang berakhlak mulia dan bertakwa kepada Allah.

1. Jangan Syirik kepada Allah

Saudaraku, mari kita mulai dengan nasihat pertama Luqman yang sangat penting ini. "Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kedurhakaan yang besar."
(QS. Luqman: 13)

Di dunia yang penuh dengan berbagai macam godaan ini, kita sering kali terperangkap dalam kepercayaan-kepercayaan yang tidak jelas dan tidak berlandaskan wahyu. Ramalan bintang, mistik, dan kepercayaan tak berdasar menjadi hal yang biasa dikonsumsi oleh banyak orang, bahkan anak-anak kita. 

Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita terjebak dalam kebingungan. Mereka lahir dengan fitrah tauhid, tetapi jiwanya dirampok oleh system kapital, liberal, bahkan juga mistis dan klenik. Semu aitu merusak iman mereka.

Sebagai orang tua dan pendidik, tugas kita adalah membentengi mereka dengan keyakinan yang kokoh, bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah, hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu. Jangan biarkan mereka terjerumus dalam kekeliruan yang tampak manis namun menyesatkan, karena syirik adalah dosa yang tiada bandingannya. 

Jika kita tidak menanamkan pada mereka tauhid yang benar, maka kita telah gagal dalam mendidik mereka untuk hidup dalam cahaya yang hakiki.

2. Berbakti kepada Orang Tua

Luqman tidak hanya mengajarkan anaknya tentang tauhid, tetapi juga mengajarkan tentang berbakti kepada orang tua. Dalam Surah Luqman (31:14), Allah berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُ فِي عَامَيْنِ ۚ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan susah payah yang bertambah-tambah. Dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku lah kembali.”

Saudaraku, pernahkah kita menghitung air mata ibu kita yang jatuh saat mengandung kita? Pernahkah kita merasakan beratnya perjuangan orang tua kita dalam membesarkan kita? Luqman mengingatkan kita bahwa berbakti kepada orang tua adalah salah satu jalan menuju ridha Allah.

Hari ini, kita harus menanamkan pada anak-anak kita rasa hormat dan pengabdian kepada orang tua. Kita harus mengajarkan mereka bahwa berbakti kepada orang tua adalah jembatan menuju surga. Jika kita tidak mampu mendidik mereka untuk menghormati orang tua, maka kita telah gagal sebagai orang tua.

3. Merasakan Pengawasan Allah

Luqman juga mengajarkan kepada anaknya untuk merasakan pengawasan Allah dalam setiap langkah hidupnya. Dalam Surah Luqman (31:16), Luqman berkata kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُ ن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَٰتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

"Wahai anakku, sesungguhnya jika ada amal sebesar biji sawi, yang tersembunyi di dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

Betapa indahnya nasihat ini. Kita diajarkan untuk selalu mengingat bahwa Allah selalu mengawasi kita, bahkan terhadap perbuatan kita yang paling kecil sekalipun. Di dunia yang penuh dengan kebebasan informasi ini, kita sering kali lupa bahwa setiap tindakan kita, setiap kata yang kita ucapkan, bahkan setiap klik di dunia maya, Allah selalu mengawasi.

Marilah kita tanamkan pada anak-anak kita bahwa mereka harus selalu menjaga akhlak dan amal mereka dalam setiap kondisi. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Jika mereka merasa selalu diawasi oleh Allah, maka mereka akan menjaga diri mereka dari segala bentuk kemaksiatan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

5. Pendidikan di Era Media Sosial

Saudaraku, kita hidup di zaman yang sangat berbeda dengan zaman Luqman atau Nabi Ya'qub. Anak-anak kita hidup dalam dunia yang penuh dengan media sosial, informasi bebas, dan pengaruh luar biasa dari dunia maya. Setiap hari mereka terpapar dengan berbagai macam informasi, yang terkadang sulit untuk disaring.

Di dunia digital ini, kita harus menjadi pendidik yang bijak. Seperti Ummu Salamah yang menjaga hati anak-anaknya, kita pun harus menjaga hati anak-anak kita dari kehidupan dunia yang serba terbuka ini. 

Kisah Ummu Salamah yang mengajarkan anak-anaknya untuk menjaga iman dan akhlak di dunia yang penuh dengan godaan, adalah contoh nyata bagi kita. Seperti beliau berkata, "Dunia ini adalah tempat ujian. Hanya dengan berpegang pada iman dan akhlak mulia kita bisa selamat."

Kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk bijak dalam memilih apa yang mereka lihat, dengar, dan konsumsi di dunia maya. Pendidikan agama yang kuat adalah benteng utama dalam melindungi mereka dari pengaruh buruk dunia maya. Hanya dengan tauhid yang kokoh, mereka akan terhindar dari kebingungan dan penyimpangan yang ada di dunia ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.

Saudaraku, mari kita jadikan wasiat-wasiat para nabi—baik dari Nabi Ya'qub yang mengajarkan kita untuk menjaga tauhid dan aqidah, maupun dari Luqman yang mengajarkan kita untuk berakhlak mulia, sebagai pedoman dalam mendidik anak-anak kita di zaman ini. 

Kita tidak hidup dalam dunia yang sama dengan mereka, tetapi nilai-nilai agama yang diajarkan oleh para nabi adalah abadi dan universal. Semoga kita dapat mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang shalih, yang selalu dekat dengan Allah, yang menjaga tauhid dan akhlak mulia, dan mampu menghadapi segala tantangan zaman dengan kebijaksanaan dan iman yang kokoh.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Kullu ‘am wa antum bikhair.

Editor : Wahab Firmansyah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update