BEKASI, iNewsBekasi.id - Super Flu Subclade K sudah masuk Indonesia dan menyebar di delapan provinsi dan terdeteksi 62 kasus. Namun, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan virus ini tidak seberbahaya Covid-19. Masyarakat pun diimbau tidak perlu khawatir karena Super Flu merupakan flu biasa.
"Jadi enggak usah khawatir bahwa ini seperti Covid-19 mematikannya, tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2," ujar Budi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (2/1/2026).
Dijelaskan lebih lanjut bahwa Super Flu merupakan influenza tipe A. Virus itu, bahkan sudah ada sejak dulu.
"Super Flu ini sebenarnya influenza tipe A. Sudah ada dari dulu, virusnya namanya H3N2, cuma variannya varian K," tutur Budi.
Menurutnya, persebaran virus tersebut kerap meningkat di musim dingin. Namun, hal itu hanya terjadi di negara yang memiliki empat musim.
"Tapi kalau di negara-negara kita, enggak terlalu tinggi kenaikannya. Karena ini khas negara empat musim. Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan," ujarnya.
Dia menegaskan, virus Super Flu Subclade K tersebut tidak mematikan layaknya Covid-19. Namun, masyarakat tetap diminta untuk menjaga kesehatan.
"Apakah ini mematikan (seperti) Covid-19? Tidak, yang penting buat teman-teman, ya jaga kesehatan, imunitasnya, istirahatnya cukup. Sehingga kalau kena, sama seperti flu biasa, bisa kembali lagi," tutur dia.
Diketahui, super flu adalah varian influenza A H3N2 yang disebut subklade K yang menurut dokter lebih parah dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Virus ini pertama kali menjadi berita utama di Inggris, sebelum menyebar ke Amerika Serikat hingga masuk ke Indonesia.
Menurut Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Prima Yosephine, mengacu pada hasil surveilans, subclade K terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
"Hingga akhir Desember 2025, tercatat ada 62 kasus influenza A (H3N2) Subclade K yang tersebar di 8 provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasusnya terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak," kata dr Prima, dikutip iNews.id, Jumat (2/1/2026).
Secara rinci, berikut temuan kasus Super Flu Subclade K di Indonesia:
- Jawa Timur: 23 kasus
- Kalimantan Selatan: 18 kasus
- Jawa Barat: 10 kasus
- Sumatera Selatan: 5 kasus
- Sumatera Utara: 3 kasus
- Jawa Tengah: 1 kasus
- Sulawesi Utara: 1 kasus
- Daerah Istimewa Yogyakarta: 1 kasus
Dari 62 kasus yang terdeteksi, mayoritas pasien adalah perempuan yakni sebanyak 64,5 persen atau 40 kasus. Sementara, berdasarkan kelompok usia, rinciannya sebagai berikut:
- Usia 1-10 tahun (35,5%)
- Usia 11-20 tahun (19,4%)
- Usia 21-30 tahun (21%)
- Di atas 60 tahun (8,1%)
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.
"Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian," ungkap dr Prima.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, serta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari.
Editor : Tedy Ahmad
Artikel Terkait
