BEKASI, iNewsBekasi.id – Rahasia John Herdman membangun tim solid terungkap usai PSSI menunjuknya sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, bukan lewat taktik rumit, melainkan melalui revolusi budaya ruang ganti yang menekankan persaudaraan.
PSSI resmi memperkenalkan John Herdman pada Sabtu (3/1/2026). Pelatih asal Inggris itu datang membawa reputasi kuat sebagai arsitek kultur tim, bukan sekadar perancang strategi di papan taktik.
Rekam jejak Herdman bersama Timnas Kanada putra dan putri menunjukkan perubahan besar yang dia lakukan selalu berawal dari pembenahan mental, ego, dan dinamika internal tim. Identitas kolektif dan rasa saling percaya menjadi fondasi utama sebelum bicara hasil.
Pendekatan tersebut dikenal luas dengan konsep brotherhood, sebuah kultur persaudaraan yang menempatkan kepentingan tim di atas individu. Di bawah Herdman, Kanada berkembang menjadi tim dengan kohesi tinggi dan karakter kuat hingga ke level akar rumput.
Kesaksian datang langsung dari para mantan pemain Kanada yang pernah bekerja bersama Herdman. Mereka menilai transformasi yang terjadi bukan proses instan, melainkan hasil pembinaan karakter jangka panjang.
Jason deVos, eks pemain Timnas Kanada, menyebut filosofi Herdman bertumpu pada pembangunan pemain sejak usia dini dan berorientasi masa depan.
“Dukungan John Herdman terhadap prinsip pengembangan pemain jangka panjang, termasuk penggunaan aktivitas latihan dan format permainan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan pemain, menegaskan jalur menuju level elite dalam sepak bola dimulai dari akar rumput,” kata DeVos, dikutip dari Canada Soccer.
“Pendekatan itu sejalan dengan prinsipnya yang berfokus pada pengajaran dasar-dasar permainan kepada pemain muda, sehingga memberi mereka peluang terbaik untuk mencapai level elite sepak bola,” ujar dia lagi.
Kultur Tim Lebih Penting dari Sekadar Skor
Dampak kepemimpinan Herdman juga dirasakan secara personal oleh para pemain. Rhian Wilkinson, mantan pemain Timnas Putri Kanada, menyebut perubahan terbesar justru terjadi di luar lapangan.
“John Herdman telah memengaruhi kami semua dalam cara yang sangat besar dan hanya sebagian kecil dari itu yang sebenarnya berkaitan langsung dengan sepak bola. Kedengarannya mungkin berlebihan, tapi dia mungkin telah mengubah saya sebagai pribadi, padahal saya baru mengenalnya ketika berusia 29 tahun,” ungkap Wilkinson.
Pandangan serupa disampaikan Diana Matheson. Dia menilai ukuran sukses di era Herdman tidak berhenti pada kemenangan semata.
“Di tim John Herdman yang penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana kita memilih mencapainya. Gaya bermain itu penting, dengan siapa kita melakukannya juga penting, tetapi lebih penting lagi kami menjadi orang Kanada yang baik dalam skuad nasional,” ujar Matheson.
Konsep persaudaraan tersebut tercermin jelas dalam kedisiplinan emosional dan tanggung jawab antarpemain. Junior Hoilett, eks penggawa Timnas Putra Kanada, menggambarkan atmosfer tim tanpa ego pribadi.
“Apa yang dibangun John Herdman di sini adalah budaya persaudaraan yang nyata, tanpa agenda pribadi. Semua orang berada di jalur yang sama dan tahu mengapa mereka berada di sini untuk tim nasional,” kata Hoilett.
Herdman sendiri menegaskan perubahan besar selalu dimulai dari fondasi yang tepat. Dia menilai sistem dan kultur menjadi kunci keberlanjutan prestasi.
“Saat kami membangun kembali program Timnas Putri Kanada itu semuanya dari nol. Dimulai dengan membangun sistem high-performance, pengembangan talenta, dan menghadirkan orang-orang yang tepat,” ucap Herdman.
Pendekatan ini dinilai selaras dengan kebutuhan Timnas Indonesia yang tengah mencari identitas baru. PSSI berharap pengalaman Herdman membangun kebersamaan dan struktur psikologis tim mampu menghadirkan perubahan nyata di Skuad Garuda.
Di bawah kepemimpinannya, proyek Timnas Indonesia diarahkan tidak hanya mengejar hasil pertandingan, tetapi membentuk identitas kolektif. Tujuannya jelas, membuat pemain tidak sekadar bermain bersama, melainkan berjuang sebagai satu kesatuan utuh.
Editor : Tedy Ahmad
Artikel Terkait
