Ahmad Zuhdi
Kandidat Doktor PAI Universitas Islam Jakarta
Dalam bentang sejarah peradaban manusia yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyematkan predikat uswah hasanah (suri teladan yang baik) secara eksplisit kepada dua pribadi agung. Pertama, kepada Nabi Ibrahim AS beserta orang-orang beriman bersamanya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ
Sungguh, telah ada suri teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya (QS Al-Mumtahanah: 4).
Kedua, kepada khatamul anbiya, Nabi Muhammad SAW:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (QS Al-Ahzab: 21).
Meskipun seluruh nabi adalah figur teladan, pengkhususan ini memberikan sinyal kuat bahwa ada integrasi nilai yang sempurna antara keduanya. Pada konteks ibadah haji dan kurban, Nabi Ibrahim AS meletakkan fondasi nilai dan idealisme, sementara Nabi Muhammad SAW menyempurnakannya dalam praktik dan realitas sosial. Dari narasi besar keluarga Ibrahim, kita dapat membedah tiga pilar utama pendidikan profetik yang sangat relevan untuk membangun ketahanan keluarga.
Pertama, fondasi tauhid. Pilar pertama dan paling utama adalah penanaman tauhid sebagai orientasi eksistensial (tujuan dasar keberadaan manusia). Pendidikan keluarga ini diawali dengan sebuah perintah untuk berserah diri sepenuhnya:
إِذْ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Tatkala Tuhan Ibrahim berkata kepadanya, 'Berserah dirilah kamu!' Ia menjawab, 'Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam'. (QS Al-Baqarah: 131).
Penyerahan diri ini bukan sekadar retorika, melainkan diuji dalam medan realitas yang paling getir. Nabi Ibrahim diperintahkan menempatkan anak dan istrinya di sebuah lembah tandus tanpa vegetasi dan air (QS Ibrahim: 37). Secara logika manusia, tindakan ini dapat mengancam keberlangsungan hidup. Namun di sinilah letak keagungan iman Siti Hajar.
Sesaat setelah memanjatkan doa di lokasi yang kini menjadi Baitullah, Nabi Ibrahim bersiap kembali ke Palestina, meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tengah lembah gersang yang dikelilingi perbukitan batu. Keputusan ini memicu keterkejutan dan protes dari Siti Hajar. Ia merasa keberatan karena ditinggal hanya dengan perbekalan yang sangat terbatas di tengah lingkungan yang ekstrem, sunyi, dan tanpa jaminan keselamatan fisik sedikit pun.
Meskipun hati dan perasaannya tersayat sebagai seorang ayah yang telah menanti kehadiran buah hati selama puluhan tahun, Nabi Ibrahim tetap melangkah pergi tanpa membalas sepatah kata pun. Ibrahim memilih untuk bersikap tegar sekaligus tegas demi memenuhi mandat Ilahi, meski secara logika manusiawi ia belum menyelami rahasia atau hikmah di balik ujian yang sedemikian berat tersebut. Baginya, ketaatan mutlak adalah prioritas yang harus ditunaikan tanpa sedikit pun ruang untuk mempertanyakan kehendak Sang Pencipta.
Melihat Ibrahim yang tidak menjawab pertanyaannya itu, Hajar mengubah pertanyaannya: “Wahai Ibrahim, apakah Allah yang perintahkan engkau melakukan semua ini (أالله الذي أمرك بهذا؟)? “Nabi Ibrahim menjawab singkat, “Benar! (نعم)” (Allah yang memerintahkan ini semua). Maka Hajar mengatakan dengan diksi yang mengguncang arsy “Kalau demikian, pergilah Engkau. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami! (إذن لا يضيأن).”
Ungkapan Siti Hajar bermakna kepasrahan yang lahir dari keyakinan yang amat kuat atas kebenaran perintah Allah, meskipun akal belum bisa menangkap hikmahnya. Keyakinan bahwa Allah sedang merealisasikan suatu takdir yang sudah direncanakannya, untuk suatu hikmah yang teramat luas dan indah pada saat itu, sekarang, dan esok yang masih menjadi rahasia.
Tabir hikmah di balik peristiwa tersebut perlahan mulai terbuka, hingga akhirnya kita yang hidup di masa kini serta generasi mendatang dapat menyaksikan betapa indahnya skenario Ilahi yang telah disusun dengan begitu sempurna. Apa yang dulunya merupakan rahasia dan ujian berat, kini menjadi sebuah kenyataan takdir yang membawa keberkahan luas bagi umat manusia di seluruh penjuru dunia.
Setiap tahunnya, jutaan jamaah haji memadati tempat yang dulunya menjadi lokasi pengasingan Siti Hajar dan Ismail, sementara ratusan juta lainnya masih menanti giliran untuk menginjakkan kaki di tanah yang diberkahi tersebut. Mereka datang untuk meresapi makna mendalam dari setiap prosesi ibadah, yang sejatinya merupakan simbol nyata dari keyakinan teguh Siti Hajar bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya terlantar sendirian.
Keyakinan absolut Siti Hajar membawa pesan mendalam bagi pola asuh di era kontemporer; bahwa perlindungan sejati bagi generasi mendatang tidaklah cukup hanya dengan jaminan fisik semata. Dalam realitas pendidikan modern, seringkali orang tua terlalu sibuk membangun benteng material untuk anak-anak, seperti tabungan dan fasilitas, namun lupa membangun benteng spiritual. Pendidikan profetik mengajarkan bahwa saat dunia terlihat kosong dan hampa, tauhid adalah satu-satunya pegangan yang membuat jiwa tetap tegak.
Pilar kedua adalah buah iman menjadi aksi melalui resiliensi (ketangguhan mental dalam menghadapi krisis). Siti Hajar tidak memilih untuk larut dalam keputusasaan. Ia melakukan ikhtiar yang sangat dinamis, berlari tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwa yang kemudian menjadi salah satu syariat dalam ibadah haji dan umrah: sa'i.
Ikhtiar Siti Hajar adalah prototipe dari kemandirian fungsional. Ia tidak menunggu keajaiban datang secara pasif. Menariknya, Allah tidak memancarkan mata air Zamzam langsung di bawah kaki Hajar yang sedang kelelahan, melainkan melalui hentakan kaki kecil Ismail AS yang sedang menangis. Ini adalah pesan pendidikan yang sangat dalam: Keberkahan sering kali lahir dari sinergi (kerjasama yang padu) antara doa serta ketabahan orang tua dengan proses perjuangan sang anak itu sendiri.
Anak-anak tidak boleh dididik dalam kemanjaan yang melumpuhkan. Kisah ini mengajarkan bahwa fasilitas (air zamzam) baru akan muncul setelah adanya usaha maksimal (sa'i). Anak-anak perlu dibiarkan merasakan 'padang pasir' kehidupan agar mereka memiliki daya juang. Dari keringat dan air mata itulah, Allah akan memancarkan solusi dan kreativitas yang kelak menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.
Pilar ketiga adalah ketaatan mutlak yang merupakan output (hasil akhir) dari pendidikan karakter yang konsisten. Ketaatan Ismail AS saat diperintahkan untuk disembelih bukanlah lahir dari ketakutan atau tekanan, melainkan buah dari rasa percaya yang mendalam kepada ayahnya yang saleh dan fondasi tauhid yang kokoh.
Nabi Ibrahim tidak menggunakan pendekatan intruksional, melainkan pendekatan komunikatif-dialogis:
يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! (QS. Ash-Shaffat: 102).
Ismail menjawab dengan penuh ketenangan: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau dapati aku termasuk orang yang sabar." Inilah ketaatan yang lahir dari sebuah keyakinan bahwa perintah Allah sepahit apa pun bagi akal pasti mengandung hikmah yang agung.
Ketaatan ini mustahil terwujud jika sang anak tidak melihat integritas (kesesuaian antara kata dan perbuatan) pada orang tuanya. Ismail taat karena ia melihat Nabi Ibrahim adalah hamba yang paling taat. Dalam konteks hari ini, orang tua tidak bisa menuntut kesalehan dari anak jika tidak menunjukkan keteladanan dalam beribadah dan berakhlak.
Narasi besar keluarga Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah cetak biru bagi setiap orang tua muslim. Ayah berperan sebagai penanam visi tauhid dan navigator karakter, ibu sebagai madrasah yang membangun resiliensi dan daya juang, sementara anak tumbuh menjadi pribadi yang taat karena mencintai Rabb-nya.
Dengan memadukan idealisme nilai dari Nabi Ibrahim dan praktik syariat dari Nabi Muhammad SAW, kita berharap dapat melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan ideal; tangguh menghadapi realitas dunia yang keras, namun tetap tunduk sepenuhnya pada kehendak Langit. Hanya dengan pilar-pilar inilah, keluarga kita akan selamat dari kegersangan maknawi di tengah hiruk-pikuk modernitas
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
