JAKARTA, iNewsBekasi.id – Takkan Kubiarkan Kau Menangis menjadi salah satu drama keluarga yang tidak saja mengangkat kisah emosional tentang hubungan ibu dan anak, tetapi kisah di balik ceritanya terselip elemen penting yang tidak kalah, yakni musik.
Takkan Kubiarkan Kau Menangis menghadirkan nuansa nostalgia melalui lagu-lagu legendaris Sheila On 7, seperti “Dan”, “Kita”, dan “Hujan Turun”, yang telah melekat di hati penikmat musik Indonesia.
Selain itu, film ini juga menghadirkan dua original soundtrack berjudul “Takkan Kubiarkan Kau Menangis” dan “Sahabat” yang dibawakan Keisha Alvaro bersama Sand Band, melengkapi perjalanan emosional para karakter sekaligus memperkuat pesan tentang keluarga, persahabatan, dan harapan.
Produser dan Sutradara film Takkan Kubiarkan Kau Menangis mengatakan film ini mengupas pencarian jati diri yang didukung musik sebagai bahasa dalam menyampaikan perasaan yang selama ini sulit diungkapkan, tetapi ceritanya begitu dekat dengan realitas kehidupan keluarga Indonesia.
Dengan latar Kota Semarang yang kaya akan nilai sejarah dan budaya, film garapan Langit Pictures Indonesia ini menghadirkan pengalaman sinematik yang hangat sekaligus menyentuh.
"Takkan Kubiarkan Kau Menangis" berkisah tentang Dika, seorang remaja yang tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup di mata ibunya, Dini, seorang ibu tunggal yang mencintai anaknya namun dibayangi trauma masa lalu. Di tengah konflik dan kesalahpahaman yang terus berkembang, Dika menemukan tempat untuk menjadi dirinya sendiri melalui musik bersama teman-temannya. Sebuah lagu kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan kembali hati ibu dan anak," kata Ferly Halim.
Menurut Ferly, film ini mengangkat realitas yang sering terjadi dalam hubungan ibu dan anak. Bukan karena keduanya tidak saling mencintai, melainkan karena adanya perbedaan cara berkomunikasi yang kerap menimbulkan kesalahpahaman. Terkadang, bahkan hal sesederhana intonasi atau cara penyampaian dapat membuat ibu dan anak salah memahami satu sama lain. Ibu merasa anaknya tidak patuh, sementara anak merasa ibunya tidak menyayanginya.
Melalui film Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly ingin menyampaikan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci untuk menciptakan suasana rumah yang damai, hangat, dan harmonis. Selain itu, film ini juga menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi jembatan yang menyatukan hubungan yang sempat merenggang.
Dalam cerita, musik hadir bukan hanya sebagai elemen hiburan, tetapi juga menjadi bahasa yang mampu menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.
Ferly juga mengajak masyarakat, khususnya para anak, untuk menormalisasi dan membiasakan diri mengekspresikan kasih sayang kepada ibu. Bentuknya tidak harus besar atau mewah; hal-hal sederhana seperti memberikan bunga, membelikan minuman favorit, atau meluangkan waktu untuk berbincang bersama dapat menjadi wujud cinta yang bermakna.
“Sebagai anak, kita sering kali menganggap kasih sayang kepada ibu sebagai sesuatu yang sudah dipahami tanpa perlu diungkapkan. Padahal, ibu juga perlu merasakan dan mendengar bentuk kasih sayang itu secara langsung. Melalui film ini, saya ingin mengajak semua orang untuk lebih berani menunjukkan cinta kepada ibu selagi masih memiliki kesempatan,” tutur Ferly.
Takkan Kubiarkan Kau Menangis yang tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026 ini dibintangi Ari Irham, Shanty, Ariyo Wahab, Agoye Mahendra, Emiliano Cortizo, Teuku Rizky, Annisa Kayla, Askara Halim, Sandy Andarusman, dan Didi Riyadi, yang menghadirkan interpretasi karakter yang kuat dan dekat dengan kehidupan keluarga Indonesia.
Mereka mengajak penonton untuk kembali menghargai komunikasi dalam keluarga, memahami arti kasih sayang, dan menyadari bahwa setiap hubungan selalu memiliki kesempatan untuk diperbaiki selama masih ada keberanian untuk saling mendengar.
Editor : Tedy Ahmad
Artikel Terkait
