BEKASI, iNewsBekasi.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah terus mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Di tengah munculnya wacana Badan Gizi Nasional (BGN) yang tidak menyalurkan MBG ke sekolah-sekolah yang dinilai elite, sejumlah pihak berharap pelaksanaannya benar-benar tepat sasaran dan menyentuh peserta didik yang membutuhkan.
Pemerhati Pendidikan Bekasi, Edi Siswanto, menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari luasnya distribusi makanan, tetapi juga dari ketepatan sasaran penerimanya. Menurutnya, program tersebut harus berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi siswa demi mendukung kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
“Program MBG harus proporsional peruntukannya dan tepat sasaran. Jangan sampai pelaksanaannya menimbulkan persoalan-persoalan yang pernah terjadi sebelumnya,” ujar Edi Siswanto yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Yapink 02 Tambun Selatan.
Menurut Edi, kebutuhan gizi anak usia sekolah merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa. Asupan gizi yang cukup akan membantu anak tumbuh sehat, meningkatkan kemampuan belajar, serta membentuk generasi yang produktif dan berdaya saing.
Ia menilai, makanan bergizi yang diberikan melalui program MBG dapat menjadi sumber energi penting untuk menunjang konsentrasi siswa selama proses pembelajaran di sekolah. Namun demikian, efektivitas program harus diukur dari manfaat nyata yang dirasakan peserta didik, bukan sekadar jumlah paket makanan yang disalurkan.
Karena itu, Edi menekankan pentingnya pemetaan penerima manfaat secara cermat. Penentuan sekolah penerima MBG harus mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi siswa agar program benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan.
Menurutnya, program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak jangan sampai kehilangan esensi akibat distribusi yang kurang tepat atau tidak sesuai kebutuhan di lapangan.
Selain ketepatan sasaran, Edi juga menyoroti aspek pengawasan dalam pelaksanaan program MBG. Ia menilai kualitas makanan yang diberikan harus diperhatikan agar sesuai kebutuhan gizi anak dan dapat dinikmati seluruh siswa.
“Jangan sampai program ini mubazir dan terkesan menghambur-hamburkan uang. Anak-anak harus bisa menikmati makanan yang diberikan sehingga tidak ada sisa yang terbuang,” ujarnya.
Di tengah besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk program MBG, masyarakat berharap program tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh distribusi makanan, tetapi juga bagaimana setiap porsi yang diberikan mampu memberikan manfaat nyata bagi kesehatan, kecerdasan, dan masa depan generasi penerus bangsa.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
