Jangan Takut Cek Kesehatan! Pemerintah Siapkan Pengobatan Gratis hingga Rujukan

Wahab Firmansyah
Pemerintah memperkuat deteksi dini melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pengobatan TB, dan pemerataan fasilitas kesehatan. (Foto: Istimewa).

Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, masyarakat dapat segera melakukan perubahan gaya hidup, seperti memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, hingga mendapatkan pengobatan sebelum terjadi komplikasi.

Pemerintah memastikan Program CKG tidak berhenti pada tahap skrining atau pemeriksaan awal. Masyarakat yang ditemukan memiliki faktor risiko atau terdiagnosis penyakit tertentu akan mendapatkan tindak lanjut sesuai kondisi kesehatannya.

Tindak lanjut tersebut dapat berupa edukasi mengenai perubahan gaya hidup, pemberian obat secara gratis, pemeriksaan lanjutan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan dengan layanan yang lebih lengkap.

“Tahun ini kami mulai kasih obatnya. Cek kesehatan dan pengobatan gratis dan juga ada rujukan untuk penyakit tertentu,” kata Budi.

Pengembangan layanan tersebut dilakukan agar hasil pemeriksaan CKG memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Peserta tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memperoleh arahan mengenai langkah yang harus dilakukan setelah pemeriksaan.

Pemerintah berharap masyarakat mulai membangun kebiasaan baru, yakni melakukan pemeriksaan kesehatan ketika masih merasa sehat, bukan menunggu munculnya keluhan atau penyakit.

Direktur RS Harapan Kita sekaligus Pakar Pendamping Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), FISQua, menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu tantangan penting dalam pelaksanaan CKG.

Menurut Ariani, masih ada masyarakat yang enggan memeriksakan kesehatan karena takut mengetahui penyakit yang mungkin dideritanya. Padahal, deteksi dini justru dapat meningkatkan peluang untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.

“Persepsinya harus dibetulkan dulu. Orang sering takut cek kesehatan karena takut ketahuan sakit. Justru dengan mengetahui sejak dini, kita bisa mencegah agar kondisinya tidak berkembang dari kuning menjadi merah, bahkan bisa kembali menjadi hijau,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tidak cukup hanya mengandalkan obat-obatan. Pengobatan harus dibarengi perubahan gaya hidup, mulai dari menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, mencukupi waktu istirahat, hingga disiplin mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Selain penyakit tidak menular, pemerintah juga memperkuat penanganan tuberkulosis (TB) yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia.

Mengacu pada Global TB Report 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 1.080.000 kasus baru dan 125.000 kematian akibat TB setiap tahun.

Besarnya angka tersebut membuat percepatan deteksi dan pengobatan TB menjadi salah satu prioritas pemerintah. Penemuan kasus perlu diperluas agar pasien dapat segera mendapatkan pengobatan hingga tuntas.

Budi menegaskan bahwa TB dapat disembuhkan apabila ditemukan lebih awal dan mendapatkan pengobatan yang tepat. Masyarakat juga diminta tidak memberikan stigma kepada penderita TB karena stigma dapat membuat seseorang enggan menjalani pemeriksaan atau menghentikan pengobatan.

“Kalau ditemukan lebih cepat lalu minum obat, dalam sekitar satu bulan pasien sudah tidak menularkan lagi. Karena itu kita harus menemukan sebanyak mungkin kasus agar segera diobati,” ujarnya.

Editor : Wahab Firmansyah

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network