Arteta Abaikan Peringatan Guardiola sebelum Latih Arsenal hingga Juara, Kini Nasib Keduanya Berbalik

Abdul Haris
Mikel Arteta dan Pep Guardiola bersahabat sejak lama. Foto: Man City

BEKASI, iNewsBekasi.id – Mikel Arteta pernah mengambil keputusan berisiko ketika meninggalkan Manchester City dan menerima tawaran menjadi pelatih Arsenal pada 2019. Saat itu, The Gunners sedang berada dalam kondisi sulit. Namun, Arteta tetap memilih kembali ke klub yang pernah menjadi bagian penting dalam kariernya sebagai pemain.

Keputusan tersebut tidak datang tanpa peringatan. Pep Guardiola, yang saat itu menjadi atasannya di Manchester City, memahami betul situasi Arsenal yang sedang mengalami kemunduran setelah era Arsene Wenger.

Arteta sebelumnya bergabung dengan Manchester City sebagai bagian dari staf kepelatihan Guardiola setelah memutuskan gantung sepatu pada 2016. Selama tiga tahun di Etihad Stadium, dia mendapatkan pengalaman langsung bekerja di bawah salah satu pelatih terkemuka dunia.

Bersama Guardiola, Manchester City meraih dua gelar Premier League, dua Carabao Cup, dan satu Piala FA. Pengalaman tersebut menjadi modal Arteta ketika kesempatan untuk menangani Arsenal datang.

Situasi Arsenal kala itu jauh dari kata ideal. The Gunners berada di peringkat ke-10 Liga Inggris setelah Unai Emery kehilangan pekerjaannya. Freddie Ljungberg kemudian menangani tim sebagai pelatih interim selama lima pertandingan sebelum klub memilih Arteta sebagai sosok yang dipercaya untuk membangun kembali tim.

Guardiola memahami besarnya tantangan yang akan dihadapi mantan asistennya tersebut.

"Saya pikir Arsenal selalu menjadi salah satu tim terbaik dalam 20 tahun terakhir. Ketika Arsene Wenger mengambil alih tim, dia membawa klub ke level lain dan sekarang mereka sedikit kesulitan dalam beberapa tahun terakhir," kata Guardiola, dikutip dari Mirror.

Guardiola juga menegaskan bahwa keputusan Arsenal untuk mengganti pelatih maupun mendatangkan pemain selalu ditujukan untuk membawa klub menuju kondisi yang lebih baik. Namun, dia mengaku tidak mengetahui apakah perubahan tersebut akan langsung membuahkan hasil.

"Ketika klub mengambil keputusan mengganti pelatih atau membeli pemain, tujuannya selalu untuk berkembang menjadi lebih baik. Apakah itu akan terjadi atau tidak, saya tidak tahu. Anda tahu pendapat saya tentang Mikel. Dia seorang profesional dan pribadi yang baik, saya tidak meragukan itu," ujarnya.

Peringatan tersebut tidak membuat Arteta mengurungkan niatnya. Dia tetap meninggalkan Manchester City dan memulai babak baru bersama Arsenal.

Perjalanannya pun tidak berlangsung mulus. Arteta harus melewati sejumlah musim penuh tekanan, termasuk kegagalan tipis dalam persaingan perebutan gelar Liga Inggris.

Namun, proses panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Arteta berhasil membangun kembali Arsenal hingga kembali mengangkat trofi Premier League.

Kesuksesan itu membuat posisi Arteta semakin kuat di Emirates Stadium. Arsenal kemudian memberikan kontrak baru bernilai besar kepada pelatih asal Spanyol tersebut.

Menariknya, perjalanan Arteta bersama Arsenal kemudian membuatnya berada di sisi berlawanan dengan Guardiola. Arsenal dan Manchester City berkembang menjadi dua kekuatan yang bersaing ketat dalam perebutan gelar Liga Inggris.

Meski demikian, rivalitas di lapangan tidak menghapus hubungan personal keduanya. Arteta tetap menganggap Guardiola sebagai sosok penting dalam perjalanan hidup dan kariernya.

Hal tersebut terlihat ketika Arsenal harus berhadapan dengan Manchester City pada Piala FA 2023. Arteta mengakui duel tersebut menghadirkan perasaan berbeda karena lawannya adalah sosok yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan dirinya sebagai pelatih.

"Ini perasaan yang aneh. Saya sungguh menginginkan yang terbaik untuk dia, dan ketika Anda bersaing dengan seseorang seperti ini, ada sesuatu yang muncul di antara itu," kata Arteta.

Arteta menegaskan persaingan profesional tidak akan mengubah kedekatan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

"Itu tidak akan mengubah persahabatan, momen-momen yang kami miliki, betapa pentingnya dia dalam hidup saya, dan betapa pentingnya dia dalam profesi saya," lanjutnya.

Namun, ketika pertandingan dimulai, keduanya tetap memiliki tujuan yang sama seperti pelatih pada umumnya: membawa klub masing-masing meraih kemenangan.

"Kami berdua ingin menang dan membela klub kami dengan cara apa pun dan itu selalu terjadi sejak hari pertama. Sejujurnya, saya lebih memilih melakukannya melawan orang lain," ujar Arteta.

Guardiola sendiri tidak menampik bahwa hubungan tersebut berjalan dua arah. Arteta bukan hanya sosok yang pernah bekerja di bawahnya, tetapi juga seseorang yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan Guardiola sebagai pelatih.

"Saya tidak tahu seberapa besar peran saya terhadap dirinya, tetapi pengaruh dia kepada saya sangat besar, sangat penting untuk membuat saya menjadi pelatih yang lebih baik," ucap Guardiola.

Kini, keputusan Arteta pada 2019 dapat dilihat sebagai salah satu titik paling menentukan dalam kariernya. Dia meninggalkan posisi sebagai tangan kanan Guardiola di Manchester City demi mengambil alih Arsenal yang sedang terpuruk.

Alih-alih tenggelam bersama klub yang tengah mengalami masa sulit, Arteta justru berhasil menjadikan Arsenal kembali sebagai penantang utama di Inggris hingga akhirnya meraih gelar Premier League.

Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pilihan Arteta untuk mengambil risiko pada 2019 membawanya keluar dari bayang-bayang Guardiola. Dari seorang asisten di Manchester City, dia berkembang menjadi pelatih utama yang mampu membawa Arsenal kembali ke puncak sepak bola Inggris.

Editor : Tedy Ahmad

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network