Jababeka dan Pertamina Kembangkan Energi Hijau, Bidik Net Zero Emission pada 2027

Wahab Firmansyah
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono. Foto/Istimewa

BEKASI, iNewsBekasi.id– PT Jababeka dan PT Pertamina melanjutkan kerja sama pengembangan energi bersih di kawasan industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Kolaborasi tersebut mencakup pemanfaatan gas, energi surya, pengolahan limbah menjadi energi, hingga pengembangan hidrogen untuk industri dan transportasi.

Rencana itu dibahas dalam seminar bertajuk Ketahanan Energi dan Keberlanjutan dengan Transisi Energi: Menuju Net Zero Industrial Estate dengan Energy Security yang digelar Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) bersama Pertamina.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan, kerja sama tersebut merupakan kelanjutan kolaborasi yang dirintis sejak 2022. Ke depan, kedua pihak akan mengembangkan sejumlah sumber energi alternatif untuk membantu perusahaan di kawasan industri menekan emisi karbon.

"Rencananya, kerja sama itu mencakup pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC (gas dari limbah organik yang dapat menggantikan gas bumi), panel surya dan baterai penyimpan listrik (Battery Energy Storage System/BESS), serta kredit karbon, yaitu mekanisme yang memberi nilai ekonomi pada upaya mengurangi emisi," paparnya.

Pertamina juga menjajaki pemanfaatan hidrogen hijau untuk mendukung transportasi rendah karbon, termasuk dalam pengembangan kota berbasis transportasi umum atau Transit Oriented Development (TOD).

“Memasuki 2027, kami fokus mengembangkan alternatif energi hijau lain, seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi,” kata Agung.

Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi mengatakan, upaya mengurangi emisi di kawasan industri Jababeka dilakukan melalui pengembangan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan sumber daya.

Salah satu langkah yang telah berjalan adalah pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berkapasitas 230 kilowatt peak (kWp) di instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) Jababeka. Proyek tersebut dikerjakan bersama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE).

Sejak beroperasi pada 2023, PLTS tersebut telah menghasilkan listrik sebesar 858,21 megawatt jam (MWh). Menurut data pengelola, produksi listrik itu setara dengan pengurangan emisi karbon sekitar 734 ton CO2e.

Penggunaan energi surya juga mulai meluas ke perusahaan-perusahaan di kawasan industri tersebut.

"Hingga September 2026, tercatat 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka telah memasangnya dengan total kapasitas 14,5 megawatt peak (MWp)," tuturnya.

Didik mengatakan, Jababeka mengembangkan konsep kawasan industri berwawasan lingkungan melalui penyediaan infrastruktur terintegrasi. Fasilitas yang dikembangkan antara lain pembangkit listrik berbahan bakar gas, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpadu, serta pengolahan air yang memanfaatkan sumber air permukaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.

Pengelola kawasan juga mengembangkan fasilitas dry port untuk mendukung efisiensi logistik melalui angkutan kereta api menuju pelabuhan. Skema ini diharapkan membantu mengurangi emisi dari transportasi barang dan pergerakan truk, termasuk kendaraan dengan muatan berlebih atau over dimension over loading (ODOL).

Selain itu, pengelola menyiapkan angkutan massal bagi pekerja dan menerapkan aturan kawasan untuk mendorong perusahaan menjalankan kegiatan industri sesuai ketentuan lingkungan.

Editor : Wahab Firmansyah

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network