BEKASI, iNewsBekasi.id– PT Jababeka dan PT Pertamina melanjutkan kerja sama pengembangan energi bersih di kawasan industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Kolaborasi tersebut mencakup pemanfaatan gas, energi surya, pengolahan limbah menjadi energi, hingga pengembangan hidrogen untuk industri dan transportasi.
Rencana itu dibahas dalam seminar bertajuk Ketahanan Energi dan Keberlanjutan dengan Transisi Energi: Menuju Net Zero Industrial Estate dengan Energy Security yang digelar Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) bersama Pertamina.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan, kerja sama tersebut merupakan kelanjutan kolaborasi yang dirintis sejak 2022. Ke depan, kedua pihak akan mengembangkan sejumlah sumber energi alternatif untuk membantu perusahaan di kawasan industri menekan emisi karbon.
"Rencananya, kerja sama itu mencakup pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC (gas dari limbah organik yang dapat menggantikan gas bumi), panel surya dan baterai penyimpan listrik (Battery Energy Storage System/BESS), serta kredit karbon, yaitu mekanisme yang memberi nilai ekonomi pada upaya mengurangi emisi," paparnya.
Pertamina juga menjajaki pemanfaatan hidrogen hijau untuk mendukung transportasi rendah karbon, termasuk dalam pengembangan kota berbasis transportasi umum atau Transit Oriented Development (TOD).
“Memasuki 2027, kami fokus mengembangkan alternatif energi hijau lain, seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi,” kata Agung.
Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi mengatakan, upaya mengurangi emisi di kawasan industri Jababeka dilakukan melalui pengembangan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan sumber daya.
Salah satu langkah yang telah berjalan adalah pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berkapasitas 230 kilowatt peak (kWp) di instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) Jababeka. Proyek tersebut dikerjakan bersama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE).
Sejak beroperasi pada 2023, PLTS tersebut telah menghasilkan listrik sebesar 858,21 megawatt jam (MWh). Menurut data pengelola, produksi listrik itu setara dengan pengurangan emisi karbon sekitar 734 ton CO2e.
Penggunaan energi surya juga mulai meluas ke perusahaan-perusahaan di kawasan industri tersebut.
"Hingga September 2026, tercatat 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka telah memasangnya dengan total kapasitas 14,5 megawatt peak (MWp)," tuturnya.
Didik mengatakan, Jababeka mengembangkan konsep kawasan industri berwawasan lingkungan melalui penyediaan infrastruktur terintegrasi. Fasilitas yang dikembangkan antara lain pembangkit listrik berbahan bakar gas, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpadu, serta pengolahan air yang memanfaatkan sumber air permukaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.
Pengelola kawasan juga mengembangkan fasilitas dry port untuk mendukung efisiensi logistik melalui angkutan kereta api menuju pelabuhan. Skema ini diharapkan membantu mengurangi emisi dari transportasi barang dan pergerakan truk, termasuk kendaraan dengan muatan berlebih atau over dimension over loading (ODOL).
Selain itu, pengelola menyiapkan angkutan massal bagi pekerja dan menerapkan aturan kawasan untuk mendorong perusahaan menjalankan kegiatan industri sesuai ketentuan lingkungan.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menilai sejumlah perusahaan di kawasan industri Jababeka telah mulai menerapkan langkah konkret untuk mengurangi emisi dari kegiatan operasional mereka.
Dia mencontohkan Unilever yang tengah mengembangkan biometana sebagai sumber gas yang lebih ramah lingkungan bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), perusahaan yang tergabung dalam grup Pertamina.
Perusahaan lain, Astemo, juga telah memasang PLTS atap untuk memenuhi sebagian kebutuhan energinya. Menurut Agung, kapasitas panel surya yang dipasang perusahaan tersebut meningkat dari sekitar 1,2 megawatt (MW) tiga tahun lalu menjadi lebih dari 2 MW.
“Ini menunjukkan para tenant yang menyampaikan komitmen menjadi net zero industrial cluster juga telah menindaklanjutinya, dengan dukungan peran Jababeka Infrastruktur. Karena itu, Pertamina melalui Pertamina NRE dan PGN siap terus mengembangkan dan memenuhi kebutuhan para tenant dalam melakukan dekarbonisasi,” ujar Agung.
Pertamina juga membuka peluang pengembangan teknologi pengolahan limbah menjadi energi atau waste to energy. Selain itu, gas yang dihasilkan dari limbah berpotensi dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen bagi kebutuhan kawasan industri maupun sektor transportasi.
“Kami yakin dengan dukungan Jababeka Infrastruktur, komitmen para tenant ini dapat terwujud dan dapat mendorong pemerintah menyiapkan regulasinya, sehingga tujuan itu bisa tercapai,” katanya.
Di sisi lain, Didik menyebut pengembangan kawasan industri Jababeka turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Bekasi.
Menurut dia, kawasan industri tersebut telah berkembang selama tiga dekade dan menjadi bagian dari pusat manufaktur nasional. Didik menyebut Jababeka menciptakan sekitar 1,1 juta lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Sampai saat ini, Bekasi mencatatkan realisasi investasi manufaktur tertinggi di Jawa Barat dan nasional. Jababeka menciptakan 1,1 juta lapangan kerja dan memiliki pendapatan per kapita yang termasuk tinggi di Tanah Air (US$35.000 per kapita), sedangkan Bekasi berkontribusi 22–45 persen terhadap ekspor industri manufaktur nasional," ujarnya.
Didik berharap pengembangan energi bersih dan infrastruktur rendah karbon dapat memperkuat daya saing kawasan industri Jababeka sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi di sektor manufaktur.
Sementara itu, Pertamina menyatakan akan melanjutkan kerja sama melalui pengembangan sumber energi alternatif dan dukungan teknologi dekarbonisasi bagi perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
