Selain tekanan dari luar negeri, pergerakan rupiah juga dibayangi ketidakpastian pasar modal domestik. Investor menaruh perhatian pada pengumuman lembaga penyedia indeks pasar modal global, MSCI, terkait potensi pembekuan status pasar saham Indonesia hingga risiko penurunan klasifikasi menjadi Frontier Market.
Evaluasi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi prospek bursa saham Indonesia dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik. Penanganan persoalan yang mendasari evaluasi MSCI menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan durasi serta dampak status khusus tersebut.
Ketidakpastian ini juga memunculkan kekhawatiran terhadap kemungkinan keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan Indonesia. Jika tekanan tersebut berlanjut, stabilitas nilai tukar rupiah berpotensi ikut terdampak.
“Potensi pembekuan hingga degradasi status bursa saham oleh MSCI amat menghantui pasar keuangan Indonesia dan berisiko memicu keluarnya arus modal asing. Jika perbaikan regulasi tidak segera tercapai, ancaman penurunan klasifikasi ke Frontier Market akan menjadi beban berkepanjangan bagi stabilitas rupiah,” kata Ibrahim.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (13/10/2026) akan dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS dan respons pasar terhadap persoalan di bursa domestik. Pelaku pasar akan mencermati data ekonomi AS serta perkembangan evaluasi MSCI untuk melihat arah pergerakan mata uang Garuda selanjutnya.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
