Kisah Negeri Saba yang Subur serta Makmur, Namun Penduduknya Diazab Allah karena Menyembah Matahari

Miftah H. Yusufpati
.
Rabu, 21 September 2022 | 06:14 WIB
Negeri Saba adalah negeri yang subur. Namun, penduduknya menyembah matahari, sehingga Allah SWT mengazab mereka. (Foto: Ilustrasi/Pixabay)

JAKARTA, iNewsBekasi.id - Inilah kisah negeri Saba yang subur serta makmur, tetapi penduduknya diazab Allah SWT karena menyembah matahari diinformasikan di Al-Qur'an surat Saba ayat 15-16 dan surat An-Naml ayat 22-24.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan negeri Saba subur karena adanya bendungan yang dinamakan Saddi Ma'rib, di mana pada awalnya air datang ke mereka dari celah-celah yang ada di antara kedua bukit, kemudian berkumpul di lembah dan bercampur dengan air hujan yang turun kepada mereka dari bukit-bukit yang ada di sekitarnya.

Lalu raja-raja mereka dahulu membuat rencana untuk memanfaatkan air tersebut, maka mereka membangun sebuah dam yang besar lagi kokoh guna membendung air tersebut. Akhirnya permukaan air naik dan memenuhi lembah yang ada di antara kedua bukit tersebut.

Kemudian mereka menanam pohon-pohon dan bercocok tanam, serta menghasilkan buah-buahan yang sangat banyak dan bermutu baik. Sebagaimana yang telah diceritakan oleh bukan seorang dari kalangan ulama Salaf, antara lain Qatadah.

Disebutkan bahwa seorang wanita dari kalangan mereka berjalan di bawah pepohonan dengan membawa keranjang atau wadah buah-buahan di atas kepalanya. Maka buah-buahan berjatuhan memenuhi keranjang­nya tanpa susah payah harus memetiknya karena buahnya rimbun dan masak-masak.

Bendungan tersebut terletak di Ma'rib, nama sebuah tempat yang jauhnya tiga marhalah dari kota San'a, sehingga dikenal dengan nama Saddi Ma'rib (bendungan Ma'rib).

Ulama lainnya menceritakan bahwa di negeri mereka tidak terdapat seekor lalat atau nyamuk pun, juga tidak terdapat serangga lainnya yang mengganggu. Demikian itu karena iklim negeri itu sedang dan berkat pertolongan dari Allah SWT agar mereka mengesakan dan menyembah-Nya, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah SWT:

لَقَدۡ كَانَ لِسَبَاٍ فِىۡ مَسۡكَنِهِمۡ اٰيَةٌ  ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ يَّمِيۡنٍ وَّشِمَالٍ ۖ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَاشۡكُرُوۡا لَهٗ ؕ بَلۡدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوۡرٌ

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun." (QS Saba : 15)

Sayangnya, Allah SWT berfirman: "Tetapi mereka berpaling (Saba: 16). Yakni dari mengesakan Allah, dari menyembah-Nya, serta dari bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka.

Sebaliknya, mereka menyembah matahari, bukannya menyembah Allah. Sebagaimana yang dilaporkan burung Hud-Hud kepada Nabi Sulaiman as. Hal ini menceritakan oleh firman-Nya:

وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ. إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ. وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

Dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk (QS An-Naml: 22-24)

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Wahb ibnu Munabbih bahwa Allah SWT telah mengirimkan kepada mereka 13 orang nabi sebagai utusan-utusan Allah SWT. Sedangkan As-Saddi mengatakan Allah SWT telah mengutus kepada mereka 12.000 orang nabi.

Lantaran kelakuan mereka itu, Allah mendatangkan banjir yang besar. Ada juga yang bependapat hama tikus, dan menurut pendapat yang lainnya lagi adalah air bah.

Ibnu Abbas, Wahb ibnu Munabbih, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah menyebutkan bahwa ketika Allah SWT hendak menghukum mereka dengan mengirimkan banjir besar kepada mereka, maka terlebih dahulu Allah mengirimkan sejumlah besar tikus-tikus ke bendungan mereka, lalu tikus-tikus itu menggerogotinya.

Wahb ibnu Munabbih mengutip pendapat para Ahli Kitab menceritakan penyebab hancurnya bendungan tersebut adalah karena ulah tikus.

Dalam suatu periode mereka, orang-orang Saba menjaga bendungannya dengan kucing-kucing liar, tetapi setelah takdir tiba tikus-tikus itu dapat mengalahkan kucing-kucing penjaga bendungan tersebut. Akhirnya tikus-tikus itu masuk ke daerah bendungan dan melubanginya sehingga bendungan mereka ambruk dan banjir menimpa mereka.

Halaman : 1 2
Bagikan Artikel Ini