Sastrawan Mesir dan Indonesia Raih BRICS Award 2025: Mengukuhkan Sastra Global South
Denny JA, melalui pengakuan global ini, telah mengangkat profil Indonesia di mata dunia sastra. Penghargaan inovasi ini tidak terkait dengan peringkat karya tahunan, melainkan pengakuan atas penciptaan terobosan artistik, yang dalam sejarah modern jarang sekali terjadi—disejajarkan dengan pengakuan terhadap Magical Realism atau Absurdism.
Sergey Stepashin dari Russian Book Union menyebut momen ini sebagai peletakan batu pertama ruang budaya bersama bagi negara-negara BRICS.
Dmitry Kuznetsov, Kepala Sekretariat Penghargaan, menyatakan BRICS Award hadir sebagai alternatif atas Nobel Sastra yang dinilai semakin politis. BRICS ingin mengembalikan sastra pada nilai-nilai tradisi, keadilan, humanisme, dan solidaritas Global South.
Dalam kerangka ini, Salwa Bakr mewakili suara kaum tertindas, sementara Denny JA mewakili inovasi dan perspektif Asia Tenggara. Keduanya melengkapi misi BRICS membangun ruang budaya dunia yang lebih inklusif dan seimbang.
Pengakuan ini menegaskan bahwa sastra global bukan hanya tentang siapa yang terbaik, tetapi siapa yang berani membuka jalan baru bagi masa depan. Dari Kairo hingga Jakarta, dua lentera telah menyala, melampaui bendera, dan menyatukan manusia melalui kekuatan kata.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta