Jejak Tersembunyi Taman Wisata Ragunan, dari Raden Saleh hingga jadi Kebun Binatang Terbesar Asia
JAKARTA, iNewsBekasi.id – Taman Margasatwa Ragunan yang kini dikenal sebagai salah satu kebun binatang terbesar di Asia ternyata memiliki jejak sejarah panjang yang bermula dari lahan pribadi seorang tokoh seni ternama Indonesia, Raden Saleh.
Kebun binatang ini pertama kali berdiri pada 1864 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dengan nama Planten en Dierentuin. Pada masa itu, lokasi tersebut merupakan bagian dari kediaman Raden Saleh, seorang pelukis naturalis yang dikenal luas karena kecintaannya terhadap satwa.
Humas Ragunan Bambang Wahyudi mengatakan awalnya satwa-satwa yang dipelihara bukan untuk tujuan rekreasi publik, melainkan sebagai objek lukisan.
"Itu milik bangsawan ternama Indonesia, Bapak Raden Saleh. Beliau pelukis naturalis yang sangat menyukai objek satwa. Motivasi beliau adalah menjadikan satwa-satwa tersebut sebagai objek lukisan di rumah pribadinya," kata Bambang di lokasi pada Jumat (3/4/2026).
Pada masa awal, luas lahan yang digunakan hanya sekitar 10 hektare. Raden Saleh memelihara berbagai satwa, termasuk harimau yang kerap dijadikan objek dalam karya lukisnya.
Seiring waktu, minat masyarakat untuk melihat koleksi satwa tersebut semakin tinggi. Area itu akhirnya dibuka untuk umum dan dikenal sebagai Taman Raden Saleh.
Memasuki 1964, tepat satu abad setelah berdiri, pengelolaan kebun binatang diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Lokasinya kemudian dipindahkan ke kawasan Ragunan dengan area yang jauh lebih luas.
Kini, Taman Margasatwa Ragunan berkembang pesat dari luas awal sekitar 30 hektare menjadi 127 hektare. Kebun binatang ini bahkan dikenal sebagai salah satu yang terluas di Asia.
Menariknya, Ragunan masih menyimpan jejak sejarah dari masa awal berdirinya. Beberapa satwa yang berasal dari era Cikini dilaporkan masih hidup hingga kini dengan usia mencapai lebih dari 50 tahun.
"Masih ada beberapa memori yang tersimpan dari Cikini. Seperti Beruang Eropa itu masih hidup. Kemudian Gajah Sumatra usianya sudah di atas 50 tahun. Ada juga simpanse," ujar Bambang.
Melihat usia satwa yang sudah sangat tua, pengelola memberikan perawatan khusus dan tidak lagi menampilkannya kepada publik. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesehatan serta kenyamanan hewan-hewan tersebut.
"Kita masih rawat karena itu merupakan satu kenangan dari Cikini sampai sekarang," katanya.
Di sisi lain, Ragunan juga terus melakukan regenerasi satwa. Salah satunya melalui kelahiran bayi orang utan berusia tiga bulan dan primata gibon di Pusat Primata Schmutzer, meski saat ini masih dalam masa karantina dan pengawasan induknya.
Perpaduan antara sejarah panjang dan upaya konservasi modern menjadikan Ragunan bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga saksi perjalanan panjang pelestarian satwa di Indonesia.
Editor : Tedy Ahmad