get app
inews
Aa Text
Read Next : Contoh Teks Khutbah Jumat Ramadhan 6 Maret 2026, Momentum Berburu Ampunan 10 Hari Kedua

Khutbah Jumat: Model Pendidikan Profetik, Refleksi Kisah Ibrahim, Hajar dan Ismail

Jum'at, 17 April 2026 | 13:41 WIB
header img
Ilustrasi, khutbah Jumat tentang pendidikan profetik dari kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail. (Foto: Istimewa).

Melihat Ibrahim yang tidak menjawab pertanyaannya itu, Hajar mengubah pertanyaannya: “Wahai Ibrahim, apakah Allah yang perintahkan engkau melakukan semua ini (أالله الذي أمرك بهذا؟)? “Nabi Ibrahim menjawab singkat, “Benar! (نعم)” (Allah yang memerintahkan ini semua). Maka Hajar mengatakan dengan diksi yang mengguncang arsy “Kalau demikian, pergilah Engkau. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami! (إذن لا يضيأن).”

Ungkapan Siti Hajar bermakna kepasrahan yang lahir dari keyakinan yang amat kuat atas kebenaran perintah Allah, meskipun akal belum bisa menangkap hikmahnya. Keyakinan bahwa Allah sedang merealisasikan suatu takdir yang sudah direncanakannya, untuk suatu hikmah yang teramat luas dan indah pada saat itu, sekarang, dan esok yang masih menjadi rahasia.

Tabir hikmah di balik peristiwa tersebut perlahan mulai terbuka, hingga akhirnya kita yang hidup di masa kini serta generasi mendatang dapat menyaksikan betapa indahnya skenario Ilahi yang telah disusun dengan begitu sempurna. Apa yang dulunya merupakan rahasia dan ujian berat, kini menjadi sebuah kenyataan takdir yang membawa keberkahan luas bagi umat manusia di seluruh penjuru dunia.

Setiap tahunnya, jutaan jamaah haji memadati tempat yang dulunya menjadi lokasi pengasingan Siti Hajar dan Ismail, sementara ratusan juta lainnya masih menanti giliran untuk menginjakkan kaki di tanah yang diberkahi tersebut. Mereka datang untuk meresapi makna mendalam dari setiap prosesi ibadah, yang sejatinya merupakan simbol nyata dari keyakinan teguh Siti Hajar bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya terlantar sendirian.

Keyakinan absolut Siti Hajar membawa pesan mendalam bagi pola asuh di era kontemporer; bahwa perlindungan sejati bagi generasi mendatang tidaklah cukup hanya dengan jaminan fisik semata. Dalam realitas pendidikan modern, seringkali orang tua terlalu sibuk membangun benteng material untuk anak-anak, seperti tabungan dan fasilitas, namun lupa membangun benteng spiritual. Pendidikan profetik mengajarkan bahwa saat dunia terlihat kosong dan hampa, tauhid adalah satu-satunya pegangan yang membuat jiwa tetap tegak.

Pilar kedua adalah buah iman menjadi aksi melalui resiliensi (ketangguhan mental dalam menghadapi krisis). Siti Hajar tidak memilih untuk larut dalam keputusasaan. Ia melakukan ikhtiar yang sangat dinamis, berlari tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwa yang kemudian menjadi salah satu syariat dalam ibadah haji dan umrah: sa'i.

Ikhtiar Siti Hajar adalah prototipe dari kemandirian fungsional. Ia tidak menunggu keajaiban datang secara pasif. Menariknya, Allah tidak memancarkan mata air Zamzam langsung di bawah kaki Hajar yang sedang kelelahan, melainkan melalui hentakan kaki kecil Ismail AS yang sedang menangis. Ini adalah pesan pendidikan yang sangat dalam: Keberkahan sering kali lahir dari sinergi (kerjasama yang padu) antara doa serta ketabahan orang tua dengan proses perjuangan sang anak itu sendiri.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut