Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Contoh Teks Singkat Khutbah Jumat 11 September 2026, Memaknai Bencana dan Azab Allah
Advertisement . Scroll to see content

Khutbah Jumat: Model Pendidikan Profetik, Refleksi Kisah Ibrahim, Hajar dan Ismail

Jum'at, 17 April 2026 | 13:41 WIB
  • author Wahab Firmansyah
Khutbah Jumat: Model Pendidikan Profetik, Refleksi Kisah Ibrahim, Hajar dan Ismail
Ilustrasi, khutbah Jumat tentang pendidikan profetik dari kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail. (Foto: Istimewa).

Ahmad Zuhdi 
Kandidat Doktor PAI Universitas Islam Jakarta

Dalam bentang sejarah peradaban manusia yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyematkan predikat uswah hasanah (suri teladan yang baik) secara eksplisit kepada dua pribadi agung. Pertama, kepada Nabi Ibrahim AS beserta orang-orang beriman bersamanya:

 قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ

Sungguh, telah ada suri teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya (QS Al-Mumtahanah: 4).

Kedua, kepada khatamul anbiya, Nabi Muhammad SAW:

 لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (QS Al-Ahzab: 21).

Meskipun seluruh nabi adalah figur teladan, pengkhususan ini memberikan sinyal kuat bahwa ada integrasi nilai yang sempurna antara keduanya. Pada konteks ibadah haji dan kurban, Nabi Ibrahim AS meletakkan fondasi nilai dan idealisme, sementara Nabi Muhammad SAW menyempurnakannya dalam praktik dan realitas sosial. Dari narasi besar keluarga Ibrahim, kita dapat membedah tiga pilar utama pendidikan profetik yang sangat relevan untuk membangun ketahanan keluarga.

Pertama, fondasi tauhid. Pilar pertama dan paling utama adalah penanaman tauhid sebagai orientasi eksistensial (tujuan dasar keberadaan manusia). Pendidikan keluarga ini diawali dengan sebuah perintah untuk berserah diri sepenuhnya:

 إِذْ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Tatkala Tuhan Ibrahim berkata kepadanya, 'Berserah dirilah kamu!' Ia menjawab, 'Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam'. (QS Al-Baqarah: 131).

Penyerahan diri ini bukan sekadar retorika, melainkan diuji dalam medan realitas yang paling getir. Nabi Ibrahim diperintahkan menempatkan anak dan istrinya di sebuah lembah tandus tanpa vegetasi dan air (QS Ibrahim: 37). Secara logika manusia, tindakan ini dapat mengancam keberlangsungan hidup. Namun di sinilah letak keagungan iman Siti Hajar. 

Sesaat setelah memanjatkan doa di lokasi yang kini menjadi Baitullah, Nabi Ibrahim bersiap kembali ke Palestina, meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tengah lembah gersang yang dikelilingi perbukitan batu. Keputusan ini memicu keterkejutan dan protes dari Siti Hajar. Ia merasa keberatan karena ditinggal hanya dengan perbekalan yang sangat terbatas di tengah lingkungan yang ekstrem, sunyi, dan tanpa jaminan keselamatan fisik sedikit pun.

Meskipun hati dan perasaannya tersayat sebagai seorang ayah yang telah menanti kehadiran buah hati selama puluhan tahun, Nabi Ibrahim tetap melangkah pergi tanpa membalas sepatah kata pun. Ibrahim memilih untuk bersikap tegar sekaligus tegas demi memenuhi mandat Ilahi, meski secara logika manusiawi ia belum menyelami rahasia atau hikmah di balik ujian yang sedemikian berat tersebut. Baginya, ketaatan mutlak adalah prioritas yang harus ditunaikan tanpa sedikit pun ruang untuk mempertanyakan kehendak Sang Pencipta.

Editor: Wahab Firmansyah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut