get app
inews
Aa Text
Read Next : Pendaftar Sekolah Kedinasan 2026 Tembus 22.728 Orang, IPDN Paling Diminati

Belajar dari Jepang, AHY Ajak Praja IPDN Taklukkan Tantangan Geografis Indonesia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:22 WIB
header img
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto: Istimewa).

JAKARTA, iNewsBekasi.id – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengajak para Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk menjadikan tantangan geografis Indonesia sebagai peluang pembangunan, bukan hambatan kemajuan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan AHY saat memberikan kuliah umum Studium Generale di Kampus IPDN Jatinangor, Kamis (18/6/2026). Dalam kesempatan itu, AHY menyoroti tantangan besar yang dihadapi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Menurut AHY, kondisi geografis Indonesia memang menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya logistik, jauhnya jarak antardaerah, hingga keterbatasan konektivitas yang berdampak pada pemerataan pembangunan.

Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk tertinggal dari negara lain. Dalam kuliahnya, AHY mengajak para Praja IPDN belajar dari Jepang yang berhasil berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia meski memiliki berbagai keterbatasan geografis dan sumber daya alam.

Menurutnya, jika faktor geografis menjadi penentu utama nasib sebuah bangsa, Jepang tidak akan mampu mencapai tingkat kemajuan seperti saat ini.

“Geografi adalah tantangan yang harus ditaklukkan, bukan takdir yang harus diterima,” ujar AHY.

Ia menjelaskan, Jepang mampu membangun daya saing, produktivitas, serta kesejahteraan masyarakat secara konsisten meskipun menghadapi berbagai risiko bencana dan keterbatasan wilayah.

Karena itu, Indonesia juga harus memiliki semangat yang sama untuk mengubah tantangan geografis menjadi kekuatan pembangunan nasional.

AHY menilai karakteristik Indonesia berbeda dengan negara-negara kontinental seperti Amerika Serikat, Rusia, maupun Tiongkok. Dengan dua pertiga wilayah berupa lautan, Indonesia membutuhkan sistem konektivitas yang terintegrasi melalui transportasi laut, udara, jalan raya, hingga perkeretaapian.

Menurutnya, tingginya biaya logistik yang masih terjadi saat ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga barang dan kesenjangan pembangunan antarwilayah.

Oleh sebab itu, pembangunan nasional harus diarahkan untuk memperkuat konektivitas sehingga seluruh daerah dapat terhubung secara efektif.

“Pembangunan Indonesia tidak bisa Jawa-sentris. Pembangunan harus dirasakan secara merata, dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

AHY menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti jalan, pelabuhan, bandara, bendungan, maupun jaringan transportasi lainnya.

Lebih dari itu, infrastruktur harus mampu memperpendek jarak ekonomi, memperluas akses layanan publik, dan menciptakan peluang yang setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut AHY, petani di Papua, nelayan di Maluku, pelaku UMKM di Nusa Tenggara, hingga masyarakat di Pulau Jawa harus memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan peluang ekonomi.

Karena itu, pemerataan pembangunan menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia.

“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkapnya

AHY juga menyoroti berbagai potensi besar yang dimiliki Indonesia, mulai dari posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik, kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, hingga stabilitas nasional yang relatif baik.

Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia bukanlah kekurangan potensi, melainkan bagaimana mengubah seluruh potensi tersebut menjadi kesejahteraan yang dapat dirasakan secara merata oleh rakyat.

“Bangsa besar bukan bangsa yang bebas dari tantangan. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengatasi tantangannya,” tuturnya

Menutup kuliah umumnya, AHY mengingatkan para Praja IPDN bahwa mereka akan menjadi bagian dari generasi penerus yang berperan penting dalam mewujudkan pemerataan pembangunan nasional.

Sebagai calon aparatur negara, mereka akan berada di garis depan pemerintahan dan menjadi pelaksana berbagai kebijakan pembangunan di masa depan.

“Kalian akan berada di garis depan pemerintahan Indonesia. Di tangan kalian, pembangunan tidak hanya direncanakan, tetapi diwujudkan,” ucapnya.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut