Membangun Ekonomi Desa Atau Mengubur Harapan?
KEMATIAN Muhammad Rifki Renaldi Gunawan menambah daftar panjang duka dalam pelaksanaan Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Ia menjadi peserta keempat yang meninggal dunia dalam rangkaian pendidikan yang disertai latihan dasar kemiliteran.
Tak ada satupun yang bisa membenarkan suatu pelatihan harus dibayar dengan nyawa. Ambisi pemerintah membangun koperasi sebagai motor penggerak ekonomi desa namun menelan nyawa, patut diduga koperasi ini bisa jadi 'produk gagal'.
Muncul pertanyaan kemudian, mengapa sebuah program yang bertujuan mencetak manajer koperasi justru harus mempertaruhkan nyawa pesertanya? Jika korban terus berjatuhan seperti saat ini, persoalannya bukan lagi sekadar musibah individual, melainkan menyangkut desain kebijakan publik yang patut dipertanyakan.
Menjadi manajer koperasi sejatinya membutuhkan kemampuan mengelola organisasi, membaca laporan keuangan, menyusun strategi bisnis, memberdayakan anggota, serta membangun jejaring ekonomi di tingkat desa.
Tidak ada kompetensi inti tersebut yang secara langsung mensyaratkan latihan dasar kemiliteran sebagai prasyarat utama pelatihan. Disiplin memang penting, tetapi disiplin tidak identik dengan militerisasi.
Editor : Suriya Mohamad Said