Menguak Sejarah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lahir dari Letusan Dahsyat 1883
BEKASI, iNewsBekasi.id – Menguak sejarah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi daya tarik tersendiri, setelah erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik dahsyat sepanjang Jumat (4/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026).
Di media sosial, sejumlah warga mengunggah abu vulkanik yang menyelimuti rumah mereka. Tidak itu saja, fenomena alam ini juga telah melumpuhkan aktivitas penerbangan.
Meski letusan panjang telah mereda, Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III (Siaga) dengan tingkat kegempaan yang sangat tinggi.
Pemerintah mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekat atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius aman tiga kilometer dari kawah aktif.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa episode erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB telah resmi berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.
Dalam sejarahnya, Gunung Anak Krakatau muncul setelah Gunung Krakatau meletus. Erupsi dahsyat itu terjadi pada 1883.
Saking dahsyatnya, kawasan Eropa bahkan sampai gelap karena tertutup abu vulkanik dari gunung ini. Dampak letusan, setidaknya 36.417 orang meninggal dunia akibat tsunami.
Letusan Krakatau terjadi 26 Agustus 1883 (gejala muncul awal Mei). Puncak letusan hebat meruntuhkan kaldera. Sehari kemudian atau 27 Agustus, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai dan melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya.
Pada 1927 muncul gunung api di permukaan laut yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Gunung kecil itu terus-menerus meletus untuk tumbuh. Rata-rata setiap tahun bertambah tinggi 4-6 meter.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pernah menyatakan, letusan pada 1883 akan sulit terulang kembali. Letusan-letusan yang terjadi hampir setiap hari dari Gunung Anak Krakatau sekarang ini merupakan fenomena biasa. Seperti halnya anak dalam fase pertumbuhan, Gunung Anak Krakatau juga meletus untuk membesar dan meninggikan tubuhnya.
Editor: Tedy Ahmad