Era Digital, Happy Holy Kids Land Terapkan Cara Belajar Anak Tanpa Layar
BOGOR, iNewsBekasi.id — Ketika layar semakin akrab dengan keseharian anak, aktivitas belajar di luar kelas menjadi alternatif untuk menghadirkan pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya diperoleh melalui perangkat digital. Salah satunya lewat field trip yang memadukan kegiatan bermain, kreativitas, interaksi sosial, dan pembelajaran secara langsung.
Konsep tersebut diterapkan Happy Holy Kids Land melalui program field trip yang menyasar anak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD). Kegiatan dirancang agar anak tidak hanya datang dan melihat, tetapi ikut terlibat dalam berbagai aktivitas selama kunjungan.
Alih-alih hanya melihat objek atau mengikuti penjelasan, anak diajak terlibat dalam berbagai aktivitas. Program yang disiapkan meliputi Musical Theater, Puppet Show, Vocal Studio, Fantasy Frame, Art Class, Play Hub, serta Kuma Oasis.
Beragam kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal seni, mengembangkan kreativitas, melakukan aktivitas fisik, sekaligus berinteraksi dengan teman-teman sebaya.
Musical Theater dan Puppet Show, misalnya, memberikan pengalaman mengenal seni pertunjukan secara lebih interaktif. Anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat mengikuti suasana dan cerita yang disajikan.
Sementara itu, Vocal Studio memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi melalui olah vokal. Serta Fantasy Frame membawa anak untuk berekspresi melalui akting mereka.
Aktivitas lain seperti Art Class, memberikan kesempatan bagi anak untuk membuat karya seni, dan Play Hub mengajak anak bermain langsung dengan sesama temannya, dengan mengedepankan ketangkasan dan kerjasama.
Direktur Happy Holy Kids Land Tomomimi Sutomo mengatakan kegiatan field trip diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak.
“Kami ingin field trip menjadi pengalaman yang benar-benar berkesan bagi anak. Mereka bisa bermain, bereksplorasi, berkarya, sekaligus belajar tanpa merasa sedang berada dalam suasana belajar yang formal,” ujarnya.
Menurut Tomomimi, setiap anak memiliki karakter dan potensi yang berbeda sehingga perlu diberikan ruang untuk mencoba berbagai aktivitas.
“Kami percaya setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk mencoba, berekspresi, dan menemukan hal-hal baru melalui kegiatan yang menyenangkan,” tutur dia.
Pengalaman langsung juga memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Hal ini menjadi bagian yang berbeda dibandingkan aktivitas yang dilakukan seorang diri di depan perangkat digital.
Bagi sekolah, field trip dapat menjadi alternatif pembelajaran di luar kelas dengan kegiatan yang lebih variatif. Anak pun mendapatkan kesempatan untuk belajar dalam suasana yang lebih santai tanpa menghilangkan unsur edukasi.
Pada akhirnya, field trip tidak hanya menjadi agenda untuk membawa anak keluar dari lingkungan sekolah. Dengan aktivitas yang tepat, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar melalui pengalaman, mengenali minat, mengembangkan kreativitas, dan membangun kemampuan bersosialisasi.
Di tengah era digital, pengalaman semacam ini menjadi salah satu cara untuk memberikan keseimbangan antara aktivitas berbasis teknologi dan kesempatan anak untuk belajar secara langsung melalui lingkungan di sekitarnya.
Editor: Tedy Ahmad