Respons Tangani Kebakaran KMP Batumandi Diapresiasi, ASDP Dinilai Prioritaskan Keselamatan Penumpang
JAKARTA, iNewsBekasi.id- Penanganan kebakaran Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Batumandi oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mendapat apresiasi dari Komunitas Pengguna Kapal Penyeberangan Nusantara (KPK-PN). Apresiasi tersebut terutama diberikan terhadap upaya penyelamatan penumpang, pengendalian risiko, hingga langkah antisipasi pencemaran laut.
Koordinator KPK-PN, Maruly Hendra Utama, mengatakan penanganan insiden kebakaran kapal tidak dapat dinilai hanya berdasarkan kondisi akhir kapal. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan keselamatan manusia, keamanan pelayaran, mitigasi risiko lingkungan, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan investigasi.
Menurut Maruly, langkah tanggap darurat yang dilakukan ASDP menunjukkan pentingnya pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan berbagai risiko secara bersamaan. Dalam situasi kebakaran kapal, keputusan yang terburu-buru justru berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila tidak memperhitungkan kondisi kapal, keselamatan awak dan penumpang, serta aktivitas pelabuhan.
“Dalam situasi darurat seperti kebakaran KMP Batumandi, ukuran paling mendasar adalah bagaimana keselamatan jiwa diprioritaskan dan risiko lanjutan dikendalikan. Penanganan tidak cukup hanya memadamkan api, tetapi juga harus memperhitungkan keamanan alur pelayaran, potensi pencemaran laut, kondisi kapal, dan kebutuhan investigasi. Dari perspektif itu, langkah-langkah tanggap darurat ASDP patut diapresiasi,” ujar Maruly dalam keterangannya pada Kamis (22/10/2026).
Maruly menegaskan, keselamatan manusia harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap insiden pelayaran. Penyelamatan penumpang dan awak kapal membutuhkan kesiapan peralatan keselamatan, kemampuan kru menjalankan prosedur evakuasi, komunikasi yang efektif, serta koordinasi dengan tim penyelamat dan pihak berwenang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun KPK-PN, seluruh penumpang KMP Batumandi berhasil dievakuasi. Meski demikian, tiga orang dilaporkan mengalami cedera dan mendapatkan penanganan medis.
Maruly menyebut, apabila informasi tersebut telah dikonfirmasi secara resmi, keberhasilan evakuasi menjadi salah satu aspek penting yang patut diapresiasi dalam evaluasi penanganan darurat.
“Penyelamatan jiwa merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar. Ketika penumpang berhasil dievakuasi dan mendapatkan pertolongan medis, hal tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan respons darurat. Kita harus memberikan apresiasi kepada awak kapal dan seluruh unsur yang terlibat, sekaligus memastikan evaluasi dilakukan agar kesiapsiagaan semakin kuat,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan evakuasi tidak terlepas dari kesiapan operasional perusahaan. Latihan keselamatan secara berkala, pemahaman awak kapal terhadap prosedur darurat, serta kesiapan peralatan penyelamatan merupakan faktor penting yang menentukan efektivitas respons ketika kebakaran terjadi.
Selain keselamatan penumpang, Maruly menyoroti pentingnya menentukan lokasi penanganan kapal yang terbakar secara cermat.
Menurutnya, kapal yang berada di dermaga atau di dalam kolam pelabuhan dapat menimbulkan risiko tambahan terhadap fasilitas pelabuhan, kapal lain, petugas, hingga kelancaran lalu lintas pelayaran.
Dalam kondisi tertentu, penanganan di perairan yang relatif aman dan tidak mengganggu alur pelayaran dapat menjadi pilihan yang lebih tepat. Namun, keputusan tersebut harus didasarkan pada penilaian risiko oleh pihak berwenang.
Lokasi penanganan juga perlu memungkinkan akses bagi kapal bantuan, petugas pemadam kebakaran, tim medis, dan unsur penyelamat lainnya.
“Keputusan mengenai lokasi penanganan kapal terbakar bukan perkara sederhana. Ada aspek keselamatan manusia, potensi rambatan kebakaran, stabilitas kapal, kondisi angin dan arus, serta kelancaran operasional pelabuhan. Karena itu, lokasi harus ditentukan berdasarkan kondisi aktual dan penilaian teknis, bukan semata-mata pertimbangan kemudahan,” jelasnya.
Ia menuturkan, penanganan di perairan yang relatif aman dapat membantu mengurangi risiko terhadap aktivitas pelabuhan apabila kapal tidak menghambat lalu lintas pelayaran. Kedekatan dengan daratan juga dapat mempermudah akses bantuan, sepanjang tidak menimbulkan bahaya baru.
Editor: Wahab Firmansyah