Mengupas 300 Tahun Jejak Tionghoa di Bekasi Lewat Kelenteng Hok Lay Kiong

Abdullah M Surjaya
Menjelang Imlek, warga keturunan Tionghoa membersihkan Kelenteng Hok Lay Kiong di Bekasi Timur, Kota Bekasi, sebagai tradisi menyambut tahun baru. (Foto: iNews Bekasi).

BEKASI, iNewsBekasi.id - Di tengah hiruk-pikuk Kota Bekasi yang kini dikenal sebagai kota industri dan perumahan, sebuah bangunan tua berdiri tenang di Jalan Kenari, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Klenteng Hok Lay Kiong yang telah berusia lebih dari tiga abad lebih itu, seolah menjadi penjaga ingatan kota tentang migrasi, perdagangan, konflik, dan perjumpaan budaya yang membentuk Bekasi hari ini menjadi Kota Metropolitan.

Etnis Tionghoa memang dikenal sebagai pelayar dan pedagang ulung. Jejak diaspora mereka dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Di Bekasi, keberadaan komunitas Tionghoa tidak terpisahkan dari sejarah perdagangan di Pasar Bekasi.

Kekinian, pusat perdagangan itu dikenal sebagai Pasar Proyek di Jalan Ir H Juanda. Hingga kini, lebih dari separuh pemilik toko di kawasan itu merupakan warga keturunan Tionghoa, sebuah kontinuitas sejarah yang panjang.

Sejarah kehadiran etnis Tionghoa di Bekasi berkaitan erat dengan peristiwa berdarah di Batavia pada abad ke-18. Pada 1740-an, pemberontakan buruh Tionghoa terhadap kebijakan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berujung pada kekerasan dan pembantaian.

Ribuan orang Tionghoa tewas, sementara yang selamat melarikan diri ke wilayah pinggiran Batavia, termasuk Bekasi dan Cikarang, yang kala itu masih berupa hutan dan lahan pertanian, bahkan didominasi oleh rawa-rawa.


Umat Tionghoa Bekasi membersihkan rupang di Klenteng Hok Lay Kiong Bekasi. Foto/iNews Bekasi
 

Ketua Yayasan Pancaran Tridharma Bekasi Ronny Hermawan menceritakan para pelarian itu kemudian menetap dan membuka permukiman baru dipinggiran Batavia (Jakarta).

“Mereka membangun rumah, berkebun, dan berdagang untuk bertahan hidup. Karena kebutuhan spiritual, mendirikan kelenteng hingga menjadi saksi perjalanan sejarah budaya di Bekasi,” kata Ronny.

Menurut dia, jejak migrasi itu bisa dilacak dari sebaran klenteng-klenteng tua di wilayah Bekasi, Cikarang, Karawang hingga Tangerang. “Satu jalur sejarah, sekaligus jalur perdagangan etnis Tionghoa kala itu,” ucapnya.

Klenteng Hok Lay Kiong diperkirakan mulai berdiri akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Sejak itu, bangunan ini mengalami berbagai renovasi. Ruang tambahan dibangun, ornamen diperbarui, cat merah serta emas warna simbol keberuntungan diperbaharui hampir setiap tahun.

Renovasi dilakukan tanpa menghilangkan karakter bangunan tua, sehingga klenteng tetap menjadi perpaduan antara arsitektur tradisional dan kebutuhan modern. “Dana perawatan berasal dari sumbangan umat,” kata Ronny.

Di altar utama, Dewa Xuantian Shangdi disembah bersama Tjay Sen Loya dan Dewi Kwan Im. Klenteng ini melayani umat Tridharma Konghucu, Tao, dan Buddha sebuah cermin pluralitas dalam satu ruang spiritual.

Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 17 Februari 2026, warna merah kembali mendominasi klenteng. Sekitar 800 lampion dipasang di dalam area klenteng, sementara ribuan lainnya menghiasi kawasan sekitar Jalan Mayor Oking.


Foto/iNews Bekasi

Relawan dan pengurus klenteng sibuk mengganti lampion lama, menata lilin, dan menyiapkan dupa. Di dalam ruangan utama, aroma hio menguar, berpadu dengan angin yang membawa riuh kota modern.

Di balik ukiran naga dan balok kayu tua, keheningan klenteng menyimpan cerita yang lebih tua dari usia Bekasi sebagai kota. Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa sempat dibatasi. Lampion, barongsai, tulisan Mandarin, dan perayaan Imlek nyaris menghilang dari ruang publik.

Baru setelah Reformasi 1998, ekspresi budaya itu kembali muncul, termasuk di Bekasi. Kini, setiap Imlek dan Cap Go Meh, klenteng kembali hidup. Umat berdatangan, doa dipanjatkan, dan warga lintas etnis turut menyaksikan tradisi.

Namun, urbanisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda membuat jumlah jemaat perlahan menyusut. “Klenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga arsip hidup sejarah. Kalau generasi muda tidak datang, cerita ini bisa hilang,” paparnya.

Sejarawan Bekasi Ali Anwar menambahkan, Bekasi sering dilihat sebagai kota beton, pabrik, dan pusat perbelanjaan. Namun, di balik wajah modern itu, Hok Lay Kiong menyimpan lapisan sejarah tentang toleransi dan keberagaman yang tumbuh melalui interaksi sehari-hari.

Menurut dia, Pasar Bekasi terbentuk jauh sebelum kedatangan komunitas Tionghoa. Lokasinya yang berada di jalur Kali Bekasi yang menghubungkan Kali Cilengsi dan Kali Cikeas menjadikannya simpul pertemuan masyarakat pedalaman dan pesisir.

Ketika komunitas Tionghoa datang, mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga berbaur. “Mereka diterima karena datang untuk berdagang, bukan menguasai wilayah. Lambat laun mereka belajar bahasa lokal dan menyesuaikan diri,” kata Ali.

Proses itu melahirkan akulturasi yang khas. Dalam keseharian, istilah panggilan seperti “encim” dalam bahasa Tionghoa berpadu dengan “encing” dalam dialek Betawi. Perkawinan campur, pertukaran budaya, hingga tradisi kuliner menjadi bagian dari identitas Bekasi.

Kini, Lampion merah yang menggantung bukan sekadar dekorasi. Ia adalah simbol perjalanan panjang: dari pelarian kolonial, pembauran budaya, pembatasan politik, hingga kebebasan berekspresi di era Reformasi.

Menjelang Imlek 2026, lampion kembali memantul di dinding tua klenteng. Asap dupa membumbung pelan. Tiga abad telah berlalu, tetapi denyut spiritual itu tetap hidup menjadi pengingat bahwa kota bukan hanya soal gedung dan jalan, tetapi ingatan dan doa.

Editor : Abdullah M Surjaya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network