"Kedaulatan energi yang sejati adalah ketika kita mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengolah apa yang dikaruniai Tuhan di bumi Nusantara ini menjadi energi bersih bagi masa depan bangsa," ujarnya.
"Kita tidak boleh menjadi bangsa yang menggantungkan nasibnya pada belas kasihan pasar global," sambung Iriawan.
Selain mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan, Iriawan juga meminta manajemen memperkuat sistem digitalisasi guna meningkatkan efisiensi sekaligus mencegah potensi kebocoran distribusi energi.
Menurutnya, pemanfaatan sistem digital seperti Pertamina Integrated Command Center (PICC) dan Terminal Automation System harus terus dioptimalkan agar distribusi energi berjalan transparan, akuntabel, dan mendukung target zero loss perusahaan.
Di tengah dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi rantai pasok energi, Iriawan juga menekankan pentingnya menjaga keandalan aset-aset strategis, mulai dari tangki timbun, dermaga (jetty), hingga jaringan pipa di IT Surabaya.
Ia menilai penguatan operational buffer menjadi langkah penting agar terminal domestik memiliki daya tahan tinggi menghadapi gejolak pasar energi global dan tetap mampu menjaga pasokan energi bagi masyarakat.
Meski terus mendorong transformasi bisnis dan efisiensi operasional, Iriawan menegaskan bahwa aspek keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas Pertamina.
"Budaya Corporate Life Saving Rules harus melekat dalam perilaku sehari-hari demi melindungi aset negara dan memastikan setiap pekerja pulang dengan selamat," pungkas Iriawan.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
