BEKASI, iNewsBekasi.id - Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam merupakan salah satu peristiwa agung dalam sejarah umat manusia. Dalam sejumlah riwayat, kelahiran Rasulullah SAW disebut disertai berbagai peristiwa luar biasa, termasuk pancaran cahaya yang menerangi kawasan Syam.
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz 2 juga menukil riwayat yang menyebutkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi kabar menggembirakan bagi penghuni langit dan bumi. Sebaliknya, Iblis disebut bersedih dan menangis keras atas kelahiran beliau.
Nabi Muhammad SAW lahir pada Tahun Gajah. Mengenai tanggal kelahirannya, para ulama memiliki sejumlah pendapat. Salah satu pendapat yang populer di kalangan umat Islam menyebut Rasulullah SAW lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal.
Pada 2026 ini, Maulid Nabi SAW jatuh pada Selasa, 25 Agustus 2026. Namun, penetapan tanggal tersebut tidak bersifat tunggal. Para ahli sejarah dan ulama berbeda pendapat mengenai tanggal pasti kelahiran Rasulullah SAW. Karena itu, pembahasan mengenai Maulid Nabi perlu dibedakan antara kesepakatan tentang tahun dan hari kelahiran dengan perbedaan pendapat mengenai tanggalnya.
Detik-detik Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Detik-detik kelahiran Rasulullah SAW diceritakan dalam sejumlah riwayat. Salah satunya berasal dari Sayyidah Aminah binti Wahab, ibunda Nabi Muhammad SAW.
Dalam riwayat yang dinukil Ibnu Sa'ad, Sayyidah Aminah menyebut bahwa ketika melahirkan Rasulullah SAW, dirinya melihat cahaya yang memancar dan menerangi istana-istana di negeri Syam. Riwayat tersebut menyebut: "Ketika aku melahirkannya, dari diriku keluar cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam."
Riwayat mengenai cahaya tersebut juga dinukil oleh Imam Ahmad, Ad-Darimi dan sejumlah ulama lainnya dengan redaksi yang memiliki kemiripan. Rasulullah SAW juga pernah mengabarkan pengalaman yang dilihat oleh ibundanya. Dalam riwayat dari Abu Umamah Al-Bahili disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda bahwa ibunya melihat seakan-akan keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam.
Peristiwa tersebut dipahami sebagian ulama sebagai salah satu tanda kemuliaan dan keagungan kelahiran Rasulullah SAW. Dalam proses kelahiran Nabi Muhammad SAW, Sayyidah Aminah disebut mendapat bantuan dari Syifa binti Amr.
Ada pula riwayat yang menuturkan kesaksian Ummu Utsman bin Abul Ash mengenai cahaya yang memenuhi rumah ketika Rasulullah SAW dilahirkan. Dalam riwayat yang dinukil At-Thabrani, perempuan tersebut disebut menyaksikan cahaya yang menerangi rumah Sayyidah Aminah hingga ke berbagai penjuru.
Cahaya Terlihat di Makkah
Kisah tentang cahaya kelahiran Nabi Muhammad SAW juga muncul dalam sejumlah literatur sirah dan sejarah. Salah satunya disebut dalam kitab Nurul Abshar fi Manaqib An-Nabiyyil Mukhtar karya Syekh Mu'min Asy-Syablanji.
Dalam kisah tersebut diceritakan adanya seorang Yahudi di Makkah yang memperhatikan tanda-tanda luar biasa pada malam kelahiran Rasulullah SAW. Ia kemudian menanyakan apakah seorang anak telah lahir dari kalangan Quraisy.
Kisah semacam ini menjadi bagian dari khazanah riwayat yang berkembang dalam pembahasan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Iblis Menangis
Iblis Disebut Bersedih atas Kelahiran Nabi Di sisi lain, Ibnu Katsir menukil kisah bahwa Iblis mengalami kesedihan luar biasa ketika Nabi Muhammad SAW lahir. Jika manusia dan para malaikat menyambut kelahiran Rasulullah dengan kegembiraan, Iblis justru disebut menangis keras.
Kisah tersebut menggambarkan besarnya perubahan yang akan dibawa oleh Rasulullah SAW melalui risalah Islam. Beliau diutus Allah Ta'ala untuk menyampaikan tauhid, menyempurnakan akhlak dan membimbing manusia menuju jalan yang diridai-Nya.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW karena itu bukan sekadar peristiwa sejarah. Bagi umat Islam, Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengenang perjuangan Rasulullah SAW sekaligus meneladani akhlak, sunnah dan perjuangan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam.
Adapun berbagai kisah luar biasa yang mengiringi kelahiran Rasulullah SAW perlu disikapi dengan memahami kualitas dan sumber masing-masing riwayat. Tidak semua kisah yang populer di masyarakat memiliki derajat hadis yang sama, sehingga penting merujuk kepada penjelasan ulama ketika menjadikannya sebagai landasan.
Ketika bayi mulia lahir dari rahim ibunda Sayyidah Aminah, ada beberapa peristiwa besar terjadi di seluruh alam. Ibunda sahabat Abdul Rahman bin 'Auf berkata bahwa Nabi Muhammad dilahirkan tidak menangis seperti bayi lain pada umumnya.
Peristiwa yang terjadi saat Nabi lahir menunjukkan adanya irhashat (tanda-tanda awal yang menunjukkan kenabian). Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari, Al-Baihaqi, berikut peristiwa yang dimaksud:
1. Runtuhnya 14 balkon istana kekaisaran Romawi.
2. Padamnya api yang sekian lama disembah kaum Majusi (Persia).
3. Hancurnya gereja-gereja di sekitar Danau Saawah setelah airnya menyusut.
Setelah Baginda Nabi dilahirkan, kakek beliau 'Abdul Muththalib datang dengan sukacita dan membawa cucunya itu masuk ke Ka'bah; berdoa kepada Allah dan bersyukur kepadaNya. Kemudian memberinya nama 'Muhammad', nama yang tidak populer di kalangan bangsa Arab kala itu.
Adapun perempuan pertama yang menyusui Rasulullah setelah ibundanya adalah Tsuwaibah, budak wanita Abu Lahab yang saat itu juga tengah menyusui bayinya bernama Masruh, Hamzah bin 'Abdul Mutthalib, Abu Salamah bin 'Abdul Asad Al-Makhzumi.
Gambaran Fisik Rasulullah
Dikabarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan Bin Ali katanya: "Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya. Maka dia berkata: "Adalah Rasulullah itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan. Wajahnya berseri-seri layaknya bulan purnama, tingginya cukup tidak terlalu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya"
"Kemudian, janggutnya lebat, kedua matanya hitam, pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, dadanya bidang, dan kedua bahunya lebar, tulang belakangnya besar. Kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus. Perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula. Lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan."
"Telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar darinya. Bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri). Melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang. Apabila menoleh beliau menoleh dengan semua badannya. Pandangannya sering menghadap ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit. Beliau jarang memerhatikan sesuatu terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya. Selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya."
"Adalah Rasulullah itu kelihatannya seperti orang yang senantiasa banyak berfikir, tidak pernah tidur panjang. Tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya. Selalu memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva. Kata-katanya bagaikan mutiara yang indah, satu-satu kalimatnya tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan. Selalu bersikap lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri."
"Senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apapun atau terlalu memujinya. Tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga beliau membelanya. (Thabarani, Majma'uz-Zawa'id 8:275) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّم "Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan semoga keselamatan tercurah kepada segenap keluarga dan para sahabatnya."
Editor : Tedy Ahmad
Artikel Terkait
