Pertamina dan Jababeka Gaspol Menuju Net Zero, Energi Hijau Mulai Digenjot

Abdullah M Surjaya
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono bersama Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi. Foto/iNews Bekasi

CIKARANG, iNews.id - Jababeka dan Pertamina memperkuat kolaborasi untuk mendorong transformasi kawasan industri menuju net zero emission. Kerja sama diarahkan pada penyediaan energi bersih sekaligus pengembangan solusi pengelolaan limbah dan transportasi rendah karbon.

Kolaborasi itu mencakup pemanfaatan energi bersih di kawasan industri, pengolahan limbah menjadi energi (waste to energy), hingga penjajakan penggunaan hidrogen untuk kebutuhan industri dan transportasi.

Langkah tersebut diharapkan membantu perusahaan di kawasan Jababeka menekan emisi karbon sekaligus menciptakan lingkungan industri yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan kerja sama dengan Jababeka akan terus dikembangkan seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi rendah emisi.

Memasuki 2027, Pertamina menyiapkan pengembangan alternatif energi hijau seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi.

“Memasuki 2027, kami fokus mengembangkan alternatif energi hijau lain seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi,” kata Agung dalam keterangan tertulisnya, Minggu (20/9/2026).

Kerja sama itu, kata dia, bertujuan membantu perusahan-perusahan di kawasan Industri tersebut mengurangi emisi karbon, kawasan lebih bersih, hijau, dan nyaman untuk bekerja, tinggal dan beraktifitas.

Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi mengatakan Jababeka sejak awal dikembangkan dengan konsep kawasan industri modern berwawasan lingkungan.

Kawasan yang berdiri sejak 1989 tersebut kini dihuni sekitar 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara dan terus diarahkan menjadi kawasan industri yang kompetitif sekaligus berkelanjutan.

“Sejumlah infrastruktur kawasan juga dibangun dengan prinsip efisiensi dan keberlanjutan,” kata Didik.

Jababeka menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar gas, tidak menggunakan batu bara sejak sekitar 35 tahun lalu, membangun fasilitas pengolahan air permukaan, instalasi pengolahan air limbah terpadu, hingga dry port untuk mendukung efisiensi logistik dan menekan emisi.

Transformasi energi juga mulai terlihat dari pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap. Salah satunya PLTS berkapasitas 230 kWp di fasilitas pengolahan air Jababeka yang dikembangkan bersama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE).

Sejak beroperasi pada 2023, PLTS tersebut telah menghasilkan sekitar 858,21 MWh listrik dan disebut berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 734 ton CO2e. Hingga September 2026, sebanyak 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka telah memasang PLTS atap dengan total kapasitas mencapai 14,5 MWp.

Pertamina menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa komitmen menuju kawasan industri hijau mulai diterjemahkan ke dalam investasi dan aksi nyata oleh para tenant.

Agung mencontohkan Unilever yang mengembangkan pemanfaatan biometana bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), sementara Astemo meningkatkan kapasitas PLTS atapnya hingga lebih dari 2 MW.

“Ini menunjukkan para tenant yang menyampaikan komitmen menjadi net zero industrial cluster juga telah menindaklanjutinya, dengan dukungan peran Jababeka Infrastruktur,” ungkapnya.

Pertamina dan Jababeka akan menjajaki pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, panel surya, serta Battery Energy Storage System (BESS). Kolaborasi juga mencakup pemanfaatan kredit karbon sebagai instrumen ekonomi dalam upaya pengurangan emisi.

Pengembangan hidrogen hijau masuk agenda kerja sama, khususnya mendukung transportasi rendah karbon di kawasan Jababeka. Konsep tersebut akan dikaitkan dengan pengembangan kawasan berbasis transportasi umum atau Transit Oriented Development (TOD).

Selain penyediaan energi, Pertamina dan Jababeka membuka peluang pengembangan teknologi waste to energy. Limbah diolah menjadi sumber energi, termasuk pemanfaatan gas dari limbah berpotensi dikembangkan menjadi hidrogen untuk industri maupun transportasi.

Agung mengatakan Pertamina melalui NRE dan PGN siap mendukung kebutuhan tenant dalam menjalankan agenda dekarbonisasi. Sinergi penyedia energi, pengelola kawasan, dan perusahaan pengguna energi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri rendah karbon.

Kolaborasi Pertamina dan Jababeka tersebut merupakan kelanjutan kerja sama yang telah dirintis sejak 2022 dalam rangkaian agenda B20 dan World Economic Forum.

“Melalui Jababeka NZICC, para tenant didorong menjalankan aksi konkret menuju industri hijau dan net zero emission, sehingga transisi energi tidak hanya berdampak pada penurunan emisi, tetapi memperkuat daya saing kawasan industri Indonesia,” tandasnya.

Editor : Abdullah M Surjaya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network