JAKARTA, iNewsBekasi.id – Menyimpan makanan sisa di dalam kulkas sering menjadi pilihan praktis agar makanan masih dapat dikonsumsi kembali sekaligus mengurangi pemborosan pangan. Namun, makanan yang disimpan di kulkas tidak otomatis aman untuk dikonsumsi.
Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, mengatakan makanan sisa yang disimpan dengan cara tidak tepat tetap berisiko menjadi sumber penyakit bawaan makanan atau foodborne disease. Selain itu, kualitas gizi makanan juga dapat mengalami penurunan selama penyimpanan.
Rosyda menjelaskan, memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Pada suhu dingin, bakteri tidak langsung mati, tetapi pertumbuhannya menjadi lebih lambat.
“Kulkas pada suhu sekitar 1–4°C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan mensterilkan makanan. Karena itu, makanan tetap memiliki masa simpan yang terbatas,” ujarnya, dikutip dari laman IPB University, Senin (28/9/2026).
Menurut Rosyda, menyimpan makanan matang di dalam kulkas pada dasarnya dapat dilakukan. Namun, keamanan makanan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari proses pendinginan, suhu penyimpanan, durasi penyimpanan hingga cara makanan dipanaskan kembali.
Hindari Suhu Bahaya Saat Menyimpan Makanan
Dalam keamanan pangan, masyarakat perlu menghindari temperature danger zone, yakni rentang suhu 5°C hingga 60°C. Pada kondisi tersebut, mikroorganisme dapat berkembang lebih cepat.
Karena itu, makanan yang mudah rusak sebaiknya tidak terlalu lama berada pada suhu ruang sebelum dimasukkan ke dalam kulkas.
Makanan Sisa di Kulkas Aman Berapa Hari?
Secara umum, makanan matang yang disimpan pada suhu 4°C atau lebih rendah dianjurkan untuk dikonsumsi dalam waktu 3–4 hari. Namun, masa simpan dapat berbeda tergantung jenis makanan dan cara penyimpanannya.
Nasi dan pasta matang, misalnya, perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berkaitan dengan keberadaan spora Bacillus cereus.
Selain keamanan pangan, proses penyimpanan dan pemanasan ulang juga dapat memengaruhi kandungan gizi makanan.
Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B kompleks, termasuk zat gizi yang relatif sensitif terhadap panas dan proses oksidasi.
Sementara itu, kandungan lemak, terutama asam lemak tak jenuh, dapat mengalami oksidasi apabila makanan disimpan dalam wadah yang tidak tertutup dengan baik.
Pada makanan sumber karbohidrat seperti nasi, kentang dan pasta, proses pendinginan juga dapat menyebabkan perubahan pada pati. Kondisi tersebut membuat sebagian pati menjadi lebih sulit dicerna sehingga berpotensi membantu mengendalikan kenaikan gula darah serta mendukung kesehatan pencernaan.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada kondisi makanan. Penyimpanan harus dilakukan dengan benar dan makanan tidak boleh mengalami kontaminasi mikroorganisme.
Hindari Membiarkan Makanan Terlalu Lama di Suhu Ruang
Rosyda menyebut terdapat sejumlah kesalahan yang masih sering dilakukan ketika menyimpan makanan sisa.
Beberapa di antaranya adalah membiarkan makanan terlalu lama pada suhu ruang, menggunakan wadah yang terlalu besar dan dalam, serta tidak menutup makanan dengan rapat.
Selain itu, suhu kulkas juga perlu diperhatikan. Proses reheating atau pemanasan ulang sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering.
Makanan matang juga sebaiknya tidak diletakkan berdekatan dengan bahan pangan mentah. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang yang dapat meningkatkan risiko keamanan pangan.
Kenali Prinsip 2-4-74 untuk Menyimpan Makanan
Untuk menekan risiko penyakit sekaligus mengurangi food waste, Rosyda menyarankan masyarakat menerapkan prinsip sederhana “2–4–74”.
Prinsip tersebut berarti makanan yang mudah rusak sebaiknya tidak dibiarkan lebih dari dua jam pada suhu ruang, kemudian disimpan pada suhu sekitar 4°C atau lebih rendah.
Saat akan dikonsumsi kembali, makanan perlu dipanaskan hingga mencapai sekitar 74°C secara merata.
“Keamanan pangan tidak berarti semua makanan sisa harus langsung dibuang. Perencanaan penyimpanan yang baik justru dapat membantu mengurangi food waste,” pungkasnya.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
