Belum Bisa ke Tanah Suci? Lakukan 5 Amalan Ini, Pahalanya Setara Haji
BEKASI.iNewsBekasi.id – Tidak semua umat Muslim memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji atau umrah ke Tanah Suci. Namun, jangan berkecil hati. Dalam ajaran Islam, terdapat sejumlah amalan yang memiliki keutamaan pahala setara haji dan umrah.
Hal ini dijelaskan oleh Ustaz Muhammad Ihsan, yang merujuk pada berbagai dalil hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Amalan sederhana seperti membaca tasbih, tahmid, dan takbir setelah salat wajib memiliki keutamaan besar.
Dalam riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, para sahabat yang kurang mampu mengadu kepada Rasulullah karena tidak bisa berhaji, umrah, berjihad, atau bersedekah seperti orang kaya. Rasulullah kemudian memberikan solusi berupa amalan zikir yang nilainya sebanding dengan ibadah-ibadah tersebut.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: مَن غَدا إلى المَسْجِدِ لا يُرِيدُ إلّا أنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أوْ يَعْلَمَهُ، كانَ لَهُ كَأجْرِ حاجٍّ تامًّا حِجَّتُهُ
“Siapa yang pergi ke masjid dengan tujuan mempelajari ilmu atau mengajarkannya, dia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna.” (HR. Thabrani no. 7473, lihat shahih targhi wa tarhib no. 86).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَن خَرَجَ مِن بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إلى صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأجْرُهُ كَأجْرِ الحاجِّ المُحْرِمِ
“Siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan sholat wajib, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berhaji.” (HR. Abu Dawud no. 558, lihat shahih targhib dan tarhib no. 320).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ومَن خَرَجَ إلى تَسْبِيحِ الضُّحى لا يَنْصِبُهُ إلّا إيّاهُ فَأجْرُهُ كَأجْرِ المُعْتَمِرِ
“Siapa yang keluar dari rumahnya hanya dalam rangka mengerjakan sholat dhuha, maka pahalanya seperti pahala orang yang umrah.” (HR. Abu Dawud no. 558, lihat shahih targhib dan tarhib no. 320).
Ibnu Hajar Al-Haitamy ketika membahas salat dhuha berkata: “Termasuk sunnah mengerjakan salat dhuha di masjid karena ada hadis yang menunjukkan hal tersebut, sehingga menjadi pengecualian (dari salat sunnah lainnya).” (Asyraful Wasail ila fahmissyamail : 1/408).
Dalilnya: مَن صَلّى الغَداةَ فِي جَماعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلّى رَكْعَتَيْنِ كانَتْ لَهُ كَأجْرِ حَجَّةٍ وعُمْرَةٍ، قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ
“Siapa yang salat shubuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian mengerjakan salat dua rakaat, dia akan mendapatkan pahala haji dan umrah”. Rasulullah bersabda: “sempurna, sempurna, sempurna”. (HR. Tirmidzy no. 586, lihat shahih aljami’ no. 6346).
Maksud mengerjakan salat saat matahari terbit adalah ketika matahari sudah setinggi tombak, kira-kira 15 menit dari matahari terbit. Syaikh Muhammad bin Sholih al-utsaimin berkata: “Salat isyraq adalah sholat yang dikerjakan saat matahari sudah setinggi tombak, jika dikonversikan ke jam kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Inilah yang dinamakan salat isyraq, dan juga termasuk salat dhuha.” (Majmu’ fatawa wa rasail : 14/305).
Editor : Wahab Firmansyah