Dari Klub Kecil ke Liga Champions, Como Bikin Dunia Sepak Bola Terkejut
“Saya menunjukkan video pembalap sepeda yang berada di posisi keenam, lalu dia mengayuh lebih cepat di sprint terakhir dan memenangkan balapan. Itulah yang kami lakukan musim ini,” tuturnya.
Fabregas kemudian mengenang masa awal dirinya datang ke Como saat klub masih berjuang di Serie B. Dia menyebut fasilitas klub saat itu jauh dari kata memadai.
“Saat saya datang empat tahun lalu sebagai pemain, kami bahkan tidak punya tempat latihan. Kami melakukan pijat pemain di meja belakang sebuah bar. Sekarang kami berada di Liga Champions,” katanya.
Pelatih berusia 39 tahun itu menilai keberhasilan Como semakin luar biasa karena skuadnya dipenuhi pemain muda potensial. Dia menyebut ada 15 pemain yang masih berusia di bawah 23 tahun.
“Ini pencapaian luar biasa karena cara kami melakukannya. Tim ini dipenuhi anak-anak muda. Mereka selalu ingin berkembang dan menaikkan level di waktu yang tepat,” ungkap Fabregas.
Fabregas juga merasa pengalaman membangun Como membuat dirinya berkembang pesat sebagai pelatih.
“Saya berkembang sangat banyak dari pengalaman ini. Rasanya seperti pergi ke universitas sepak bola setiap hari karena saya harus mengambil begitu banyak keputusan,” ucapnya.
Meski mulai dikaitkan dengan sejumlah klub besar Eropa, Fabregas memastikan dirinya masih nyaman bersama Como dan belum berpikir meninggalkan proyek yang sedang dibangun klub tersebut.
Editor : Wahab Firmansyah