get app
inews
Aa Text
Read Next : Libur Lebaran 2026: Puncak Bogor Diserbu Wisatawan, Kemacetan Mengular hingga KM 46

Nestapa Kakek Manap, Petani Desa Nambo Bogor yang Lahannya Diduga Dicaplok Dikeruk Perusahaan Semen

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38 WIB
header img
Kakek Manap, petani Desa Nambo Bogor, mengaku kehilangan lahan warisan seluas 2 hektare. Foto/Istimewa

"Sampai sekarang juga belum ada surat pengalihan hak atas tanah girik yang kini dikuasai oleh perusahaan semen tersebut, dan saya juga belum sepeser pun mendapat ganti rugi dari pihak perusahaan. Memang ada uang yang diberi oleh pihak perusahaan, tapi itu kata merekan uang kerahiman yang nominalnya jauh dari nilai ganti rugi," kata Kakek Manap.

Parahnya lagi, keserakahan perusahaan kini merembet ke persil tanah lainnya yang juga milik Kakek Manap dan 7 warga lainnya di blok 18. Itu setelah perusahaan memasang patok baru di atas tanah warga yang notabene sudah ada patoknya sejak tahun 70an.

"Pemasangan patok baru itu Kamis dan Jumat (5-6/6/2026) kemarin. Ada sekitar 17 patok, dan itu sudah saya cabut semua," kata Kakek Manap dengar suara bergetar, menahan nestapa yang dialaminya.

Setelah terdiam sebentar dan mengatur nafasnya, petani itu kembali melanjutkan curahan hatinya. "Sebenarnya, saya sudah sangat frustasi menghadapi masalah ini. Sampai saya sering sakit, dan seperti orang linglung," ujarnya lirih. 

"Saya tidak tahu kemana lagi harus mengadukan masalah ini. Saya ini hanya orang kampung yang tak tahu apa-apa. Hanya bisa pasrah, berdoa kepada yang Kuasa, semoga pihak perusahaan, menteri kehutanan sampai bapak Presiden terbuka hatinya dan mendengar kesusahan saya ini," tutur Kakek Manap dengan suara tersedak seperti hendak terisak.

Penderitaan Kakek Manap, petani kecil di desa Nambo yang lahannya yang diduga diserobot perusahaan milik negara, sebuah potret kusam atas bobroknya praktik usaha tambang yang dilakukan perusahaan milik negara.

Status tanah milik warga yang tiba-tiba diklaim sepihak sebagai aset negara, sudah barang tentu meninggalkan dampak yang sangat berat bagi masyarakat, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Praktik buruk pertambangan semen di atas lahan warga juga memicu krisis ekologis dan sosial berkepanjangan. Paling nyata, aktivitas tersebut membuat hilangnya lapisan tanah atas (topsoil) yang berujung pada penurunan kesuburan dan matinya mata air bawah tanah akibat rusaknya kawasan karst. 

Dampak langsung ini menghilangkan sumber penghidupan, merusak lingkungan, dan mengancam hak asasi masyarakat lokal. Belum lagi, warga sering kali kehilangan lahan pertanian produktif yang menjadi tumpuan hidup turun-temurun. 

Alih-alih bertindak sebagai mediator atau pelindung hak rakyat, di hampir setiap ada konflik agraria, negara malah kerap memposisikan diri mendukung kepentingan korporasi. 

Kendati kerap memicu perdebatan karena negara sering kali hadir dengan wajah ganda, namun kehadiran negara dalam kasus konflik agraria yang melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tambang, tentu tetap dirindukan masyarakat.

Editor : Wahab Firmansyah

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut