get app
inews
Aa Text
Read Next : Pemerintah Jaga Stabilitas BBM Saat Mudik Lebaran 2026, Pasokan Aman di Tengah Tekanan Global

Kenapa Harga Pertamax Naik? Komdigi Singgung Beban APBN

Senin, 15 Juni 2026 | 09:18 WIB
header img
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membeberkan alasan BBM baik. Foto: istimewa

BEKASI, iNewsBekasi.id - Kenapa harga pertamax naik? Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membeberkan alasannya. 

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi Fifi Aleyda Yahya mengatakan jika mempertahankan harga Pertamax di bawah harga keekonomian berpotensi membebani anggaran negara. Dana yang seharusnya dapat digunakan untuk berbagai program publik dikhawatirkan terpakai untuk menutup selisih harga bahan bakar minyak (BBM).

Dijelaskan lebih lanjut, kenaikan harga Pertamax tidak terlepas dari dinamika harga minyak dunia yang dipengaruhi ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi global.

"Banyak yang bertanya mengapa harga Pertamax naik? Karena Indonesia tidak hidup sendirian. Harga minyak dunia naik akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi global. Sebagai BBM non-subsidi, Pertamax memang mengikuti harga pasar," kata Fifi dikutip dari akun Instagram @ditjenkpm, Senin (15/6/2026).

Menurut Fifi, apabila harga Pertamax terus ditahan di bawah harga pasar, negara harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk menutup selisih harga tersebut. Padahal, anggaran negara juga dibutuhkan untuk membiayai sektor pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, hingga pembangunan.

"Jika harga Pertamax terus ditahan di bawah harga keekonomian, negara harus mengeluarkan anggaran yang semakin besar. Artinya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk sekolah, rumah sakit, bantuan sosial maupun pembangunan lainnya, akhirnya habis untuk menutup selisih harga BBM," tutur Fifi.

Dia menambahkan, harga Pertamax di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, harga bensin setara RON 92 di Filipina berada di kisaran Rp22.000 per liter, Laos lebih dari Rp31.000 per liter, Thailand hampir Rp29.000 per liter, Myanmar sekitar Rp25.000 per liter dan Singapura mendekati Rp43.000 per liter.

Lebih lanjut, Fifi mengatakan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi agar tidak mengalami kenaikan. Saat ini, harga Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter dan biosolar Rp6.800 per liter.

"Yang juga penting, pemerintah tidak menaikkan BBM subsidi. Pertalite tetap Rp10.000 dan biosolar tetap Rp6.800 per liter. Perlindungan kepada masyarakat yang paling membutuhkan tetap dijaga. Kepentingan warga selalu menjadi dasar pengambilan kebijakan," ujarnya.

Karena itu, Fifi menilai pembahasan mengenai subsidi yang tepat sasaran semakin penting agar bantuan pemerintah benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.

Sebelumnya, berdasarkan penyesuaian terbaru, harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Editor : Tedy Ahmad

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut