Dari Sampah Jadi Cuan, FIA UI Dorong 52 UMKM Kota Baru Bekasi Bangun Usaha Berkelanjutan
BEKASI, iNewsBekasi.id- Tim pengabdian masyarakat Keluarga Islam Fakultas Ilmu Administrasi (KAIFA) Universitas Indonesia (UI) menggelar Pelatihan dan Edukasi Lingkungan serta Tata Kelola (Pelita) 2026 bagi pelaku UMKM di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.
Kegiatan tersebut mengangkat konsep sustainable entrepreneurship atau kewirausahaan berkelanjutan melalui edukasi dan pendampingan usaha. Sebanyak 52 pelaku UMKM mengikuti kegiatan yang dirancang untuk membantu peserta memahami keberlanjutan usaha sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi dalam menjalankan bisnis.
Program Pelita 2026 dilaksanakan di bawah bimbingan Dr. Muhammad Ramaditya, B.B.A., M.Sc. Ketua Pengabdi Pelita 2026, Hauna Yahdiyan Nuuriy, mengatakan sustainable entrepreneurship diperkenalkan sebagai konsep yang mendorong pelaku usaha tidak hanya memperhatikan kondisi bisnis saat ini, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
Konsep tersebut dapat diterapkan dalam berbagai aspek bisnis, mulai dari pemasaran dan branding, pengelolaan keuangan, hingga operasional usaha.
“Menurut kami, keberlanjutan bisa dimulai dari hal-hal yang dekat dengan aktivitas UMKM sehari-hari. Karena banyak UMKM di Kota Baru bergerak di bidang makanan dan minuman, kami memilih pengelolaan sampah sebagai salah satu pintu masuk untuk mengajak para pelaku UMKM melihat bahwa sisa usaha masih dapat dikelola dan memiliki nilai ekonomi,” kata Hauna dalam keterangannya pada Selasa (29/9/2026).
Menurut Hauna, edukasi sustainable entrepreneurship dalam kegiatan tersebut berfokus pada pengelolaan sampah sebagai salah satu hal yang dekat dengan aktivitas sehari-hari pelaku UMKM.
Materi yang diberikan juga menitikberatkan pada salah satu komponen sustainable entrepreneurship, yaitu profit atau keuntungan.
Dalam pengelolaan usaha, laba diperoleh dari selisih antara pendapatan dan beban. Karena itu, peningkatan laba dapat dilakukan dengan mengurangi beban, meningkatkan pendapatan, serta memastikan pemasukan dan pengeluaran usaha dapat dipantau melalui pencatatan keuangan.
"Konsep tersebut kemudian dikemas melalui materi 3 Jurus Warung Tangguh," ujarnya.
Hauna menjelaskan, jurus pertama mengajak pelaku UMKM mengurangi beban dengan melihat sampah yang masih memiliki nilai guna sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan.
Contohnya adalah minyak jelantah dan sampah plastik yang dapat dikumpulkan untuk disalurkan ke bank sampah maupun diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi.
Jurus kedua berfokus pada peningkatan pendapatan melalui kemasan dan informasi produk yang lebih baik. Dengan demikian, produk diharapkan lebih mudah dikenali dan konsumen dapat lebih mudah menghubungi pelaku usaha.
Sementara itu, jurus ketiga mengajak pelaku UMKM melakukan pencatatan keuangan sederhana untuk membantu memantau pemasukan dan pengeluaran usaha.
"Pemahaman pelaku UMKM terhadap materi sustainable entrepreneurship juga diukur melalui pre-test dan post-test," jelasnya.
Setelah mendapatkan materi, para pelaku UMKM mengikuti sesi mentoring dalam kelompok yang didampingi fasilitator.
Mentoring dilakukan untuk memahami kondisi dan permasalahan masing-masing UMKM secara lebih mendalam. Fasilitator mengajak peserta mengenali usaha yang dijalankan, menemukan masalah utama, menggali penyebabnya, serta mendiskusikan alternatif langkah yang dapat dilakukan.
Dari proses mentoring, ditemukan sejumlah persoalan yang dihadapi pelaku UMKM. Di antaranya keterbatasan sumber dana sebagai modal usaha, pencatatan keuangan yang belum teratur, serta pola penjualan yang bersifat musiman.
Kondisi tersebut membuat peserta perlu menyesuaikan target konsumen dengan karakteristik usaha masing-masing.
Berbagai permasalahan itu kemudian dikaitkan dengan materi 3 Jurus Warung Tangguh untuk membantu pelaku UMKM menemukan langkah sederhana yang dapat dilakukan sesuai kondisi bisnis mereka.
Selain mendapatkan edukasi mengenai kewirausahaan berkelanjutan, peserta juga mengikuti praktik upcycling botol plastik menjadi aksesori sederhana bersama tim Rue. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan workshop upcycling plastik yang dipandu Alika Najma, pemilik brand aksesori Rue (@by_rue).
Dalam sesi tersebut, pelaku UMKM diperkenalkan pada pemanfaatan botol plastik bekas sebagai bahan dasar aksesori sederhana berupa backcharm atau gantungan kunci.
Peserta kemudian mengikuti proses pembuatan secara langsung dengan menggunakan berbagai alat dan bahan pendukung serta mendapatkan pendampingan dari tim Rue.
Salah satu peserta, Yani Nuryani, pelaku usaha bidang herbal, mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah di sini kita dapat ilmu banyak sekali untuk menjalankan UMKM. Saya punya warung di rumah, jadi bisa nambah ilmu lagi. Terus kita juga dapat ilmu yang benar-benar baru buat saya, ternyata dari limbah plastik bisa jadi aksesoris yang ciamik banget. Alhamdulillah menjadi pengalaman baru yang tidak bisa dilupakan,” ujar Yani Nuryani, pelaku usaha bidang herbal.
Pendampingan bagi pelaku UMKM tidak berhenti setelah seluruh rangkaian kegiatan Pelita 2026 selesai. Para peserta diarahkan untuk bergabung dalam grup koordinasi sesuai kelompok mentoring masing-masing.
Grup tersebut menjadi sarana bagi pelaku UMKM untuk menyampaikan informasi maupun kendala yang dihadapi dalam menjalankan usaha kepada fasilitator. Pendampingan tersebut akan berlangsung selama lima bulan setelah kegiatan.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat Pelita 2026, pelaku UMKM di Kota Baru diharapkan dapat memahami konsep sustainable entrepreneurship dan menerapkan 3 Jurus Warung Tangguh sesuai dengan kondisi usaha masing-masing.
Program tersebut sekaligus memperkenalkan pemanfaatan sampah sebagai salah satu bagian dari upaya membangun usaha yang lebih berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi.
Editor: Wahab Firmansyah