Jababeka dan Pertamina Kembangkan Energi Hijau, Bidik Net Zero Emission pada 2027
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menilai sejumlah perusahaan di kawasan industri Jababeka telah mulai menerapkan langkah konkret untuk mengurangi emisi dari kegiatan operasional mereka.
Dia mencontohkan Unilever yang tengah mengembangkan biometana sebagai sumber gas yang lebih ramah lingkungan bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), perusahaan yang tergabung dalam grup Pertamina.
Perusahaan lain, Astemo, juga telah memasang PLTS atap untuk memenuhi sebagian kebutuhan energinya. Menurut Agung, kapasitas panel surya yang dipasang perusahaan tersebut meningkat dari sekitar 1,2 megawatt (MW) tiga tahun lalu menjadi lebih dari 2 MW.
“Ini menunjukkan para tenant yang menyampaikan komitmen menjadi net zero industrial cluster juga telah menindaklanjutinya, dengan dukungan peran Jababeka Infrastruktur. Karena itu, Pertamina melalui Pertamina NRE dan PGN siap terus mengembangkan dan memenuhi kebutuhan para tenant dalam melakukan dekarbonisasi,” ujar Agung.
Pertamina juga membuka peluang pengembangan teknologi pengolahan limbah menjadi energi atau waste to energy. Selain itu, gas yang dihasilkan dari limbah berpotensi dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen bagi kebutuhan kawasan industri maupun sektor transportasi.
“Kami yakin dengan dukungan Jababeka Infrastruktur, komitmen para tenant ini dapat terwujud dan dapat mendorong pemerintah menyiapkan regulasinya, sehingga tujuan itu bisa tercapai,” katanya.
Di sisi lain, Didik menyebut pengembangan kawasan industri Jababeka turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Bekasi.
Menurut dia, kawasan industri tersebut telah berkembang selama tiga dekade dan menjadi bagian dari pusat manufaktur nasional. Didik menyebut Jababeka menciptakan sekitar 1,1 juta lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Sampai saat ini, Bekasi mencatatkan realisasi investasi manufaktur tertinggi di Jawa Barat dan nasional. Jababeka menciptakan 1,1 juta lapangan kerja dan memiliki pendapatan per kapita yang termasuk tinggi di Tanah Air (US$35.000 per kapita), sedangkan Bekasi berkontribusi 22–45 persen terhadap ekspor industri manufaktur nasional," ujarnya.
Didik berharap pengembangan energi bersih dan infrastruktur rendah karbon dapat memperkuat daya saing kawasan industri Jababeka sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi di sektor manufaktur.
Sementara itu, Pertamina menyatakan akan melanjutkan kerja sama melalui pengembangan sumber energi alternatif dan dukungan teknologi dekarbonisasi bagi perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.
Editor: Wahab Firmansyah