Belajar dari Oxford dan Tianjin, Irwan Fecho Usulkan Konsep 'Sponge City' di Indonesia

Kiswondari
Ketum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Sekolah Kehutanan Menengah Atas (IKA SKMA) Irwan. Foto/Istimewa

Berbicara tentang flood plain (dataran banjir), ia pun memberikan catatan atas kunjungan pribadinya ke Kota Oxford sebulan lalu. Kota Oxford adalah salah satu dari sekian banyak kota yang wilayahnya adalah bagian dari DAS Thames (atauIsis). Tidak lebih dari dua kilometer dari pusat Kota Oxford, terdapat padang rumput atau meadow yang sekilas seperti lahan tak produktif. 

Port Meadow, nama bentangan padang rumput seluas 167 hektar, yang seperti tak produktif itu, berada di sisi utara-barat pusat kota. Rupanya, daerah ini adalah lapangan tebuka yang selalu jadi daerah genangan ketika musim dingin (hujan). 

“Siapa sangka, Port Meadow adalah padang rumput kuno yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai padang pengembalaan, hingga hari ini. Selain peran penting dalam masyarakat peternak di Kota Oxford kala itu, cekungan Port Meadow ditetapkan oleh Dewan Kota Oxford sebagai kawasan penting pencegahan dan penanggulangan banjir. Dengan berfungsinya meadow ini maka luapan air hujan selama musim dingin di Oxford, tidak pernah mejadi masalahyang mengancam keselamatan warga,” ungkap Irwan.

Di Kota Tianjin, China, sambung dia, mereka membangun dan mengembangkan taman-taman resapan air. Investasi ini menjadi solusi berbasis alam yang sangat cerdas dalam mengelola aliran air permukaan yang melewati pusat kota. 

Sponge city atau kota berpori menjadi trend kota-kota kelas dunia untuk menyediakan salah satu solusi pengelolaan aliran air permukaan dengan pendekatan ‘hydro-ecological infrastructure’. 

“Dua contoh nature engineering yang cerdas ini membantu kedua kota dalam menata iklim mikro kota, pengolahan (penyimpanan dan penyaringan alami) air hujan, menurunkan suhu sekitar, dengan investasi langsung dalam bentuk perbaikan alam dan lingkungan,” jelas Anggota Komisi V DPR 2019-2024 ini.

Oleh karenanya, Irwan berpandangan bahwa contoh pendekatan pembangunan berbasis kearifan masyarakat yang mengikuti fenomena alam ini mungkin bisa diterapkan di beberapa kota di Tanah Air. Tak ada kata terlambat dan tidak harus dalam skala yang impresif, massif ataupun menjadi fenomenal.

“Pembangunan sponge park di setiap kecamatan, atau kelurahan di daerah urban bisa menjadi solusi investasi yang lebih murah bila dibandingkan dengan biaya kerugian dan perbaikan akibat bencana hidrometeorolog basah (banjir, longsor) yang terus mengintai kota-kota di seluruh Nusantara,” saran Irwan.

Irwan pun mengajak agar para pemimpin daerah, terutama di perkotaan, untuk mulai memikirkan investasi perbaikan alam, dimulai dengan langkah sederhana: taman kecamatan atau kelurahan, menjaga sempadan sungai dan merawat daerah tangkapan air, dan daerah aliran air – sungai.

“Mari kita jaga daerah tangkapan air kita, jaga sempadan sungai kita, dan jaga daerah hulu-tengah-hilir sungai, jangan cemari, jangan rusak. Mari kita jaga sungai di sekitar kita sebagai langkah sederhana merawat infrastruktur dasar alami pengairan dan sumber air baku, sarana transportasi, energi terbarukan, dan aliran air untuk menjaga kualitas hidup (well-being) masyarakat di desa dan di kota,” ucap Irwan.

Editor : Wahab Firmansyah

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network