MALANG, iNews.id - Diskusi ilmiah bertajuk Sawit di Mata Kampus: Perspektif Ilmiah dan Komparatif digelar dalam rangkaian Sawit Academy Episode Universitas Brawijaya (UB). Forum ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam membentuk perspektif ilmiah dan objektif terhadap industri kelapa sawit.
Kegiatan yang diinisiasi Hai Sawit Indonesia dan didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menghadirkan akademisi Fakultas Teknologi Pertanian UB, Prof. Dr. Ir. Susinggih Wijana, MS, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Prof. Susinggih menekankan bahwa sawit perlu dipahami secara komprehensif, tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dari sisi efisiensi industri dan kontribusinya dalam sistem produksi global.
Ia menyebut sawit sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling efisien dibanding komoditas lain. “Sawit adalah tanaman penghasil minyak paling efisien di dunia. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tetapi efisiensi lahan dan efisiensi industri,” katanya.
Ia menjelaskan, produktivitas minyak sawit per hektare jauh melampaui kedelai, rapa, maupun bunga matahari. Tingginya produktivitas tersebut menjadi salah satu alasan banyak negara menjadikan sawit sebagai sumber utama minyak nabati.
Selain itu, Prof. Susinggih menyoroti penerapan ekonomi sirkular dan konsep zero waste dalam industri sawit modern. Hampir seluruh tanaman sawit, mulai dari tandan kosong, serat, cangkang hingga limbah cair, dapat dimanfaatkan kembali menjadi energi, pupuk, atau bahan baku turunan.
“Limbah tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan,” katanya.
Menanggapi isu lingkungan, ia menekankan pentingnya tata kelola berkelanjutan melalui standar sertifikasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), serta pendekatan konservasi yang terukur.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam pengembangan riset bibit unggul, energi terbarukan, hingga hilirisasi produk sawit. Di akhir sesi, Prof. Susinggih mengajak mahasiswa dan civitas akademika untuk lebih aktif terlibat dalam isu strategis nasional.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton isu. Kampus harus menjadi pusat riset, pengawal kebijakan berbasis sains, dan penggerak inovasi keberlanjutan sawit Indonesia,” tegasnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mahasiswa terkait tantangan global industri sawit, isu keberlanjutan, dan peluang hilirisasi.
Forum ini menegaskan posisi perguruan tinggi sebagai aktor penting dalam membangun narasi sawit berbasis data dan sains, sekaligus mendorong kolaborasi akademik dalam menghadapi dinamika industri sawit nasional dan global.
Editor : Abdullah M Surjaya
Artikel Terkait
