“Kami menekankan aspek keilmuan agar clinical hypnosis tidak dianggap sebagai sesuatu yang ‘di luar nalar’, melainkan praktik yang memiliki dasar akademis kuat,” katanya.
Selain fokus pada edukasi dan sertifikasi, kerja sama ini juga diarahkan untuk menguji efektivitas hipnoterapi dalam menangani berbagai kondisi medis, seperti nyeri kronis, diabetes, hingga kanker. Berdasarkan data internal, metode ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi.
“Efektivitasnya mencapai 93 persen hanya dalam enam sesi, lebih efisien dibandingkan metode konvensional seperti psikoanalisis,” tambahnya.
Direktur IHC, Avifi Arka, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi bentuk legitimasi bagi praktisi hipnoterapi di Indonesia. Kurikulum pelatihan disebut telah disesuaikan dengan standar nasional dan didukung sertifikasi resmi dari lembaga terkait.
“IHC berkomitmen menghadirkan ekosistem pendukung bagi akademisi dan praktisi. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sekaligus pengakuan profesional hipnoterapi di Indonesia,” jelasnya.
Dengan dukungan UGM sebagai institusi pendidikan berkelas nasional dan internasional, hipnoterapi kini dinilai memiliki landasan akademis yang semakin kuat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara dunia akademik dan praktisi dalam mengembangkan layanan kesehatan mental yang kredibel, terstandarisasi, dan berbasis sains.
Editor : Wahab Firmansyah
Artikel Terkait
